fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Meraih Terendah Baru 2026 di 5.644, Menkeu Purbaya Mengklaim Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat

  • IHSG melanjutkan penurunan hari kemarin di bawah 6.000.
  • Rupiah mencatatkan rekor terlemah baru di atas 18.000 per Dolar AS.
  • Menkeu Purbaya mengatakan fundamental ekonomi kuat.

IHSG bergerak di area 5.734,70 yang lebih rendah 3,47% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka di 5.919,56 dan sempat meraih tertinggi hari 5.924,50 dalam satu jam pertama perdagangan hanya untuk kemudian berbalik ke bawah untuk mencatatkan terendah baru 2026 di 5.644,23. Indeks melanjutkan penurunan hari sebelumnya dan jika mempertahankan kondisi saat ini, indeks menuju ditutup merah untuk tiga hari perdagangan berturut-turut.

Indeks-indeks saham Indonesia merah pada sesi pertama. JII (-4,09%) menjadi salah satu indeks yang mengalami penurunan besar sejauh hari ini. Saham-saham yang menunjukkan kinerja menonjol pada indeks ini adalah TPIA (-12,38%), BRMS (-9,91), WIFI (-9,25%), RATU (-8,94%), dan lain-lain.

Tidak ada aksi korporasi sejauh ini yang mendorong para investor untuk menjual sahamnya. Sell-off tampaknya dipengaruhi oleh sentimen negatif di tengah rekor pelemahan Rupiah di atas 18.000 per Dolar AS pagi ini. Pasar juga sejauh ini tampaknya mengabaikan komentar positif dari Menteri Keuangan Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, menyambut kunjungan Menteri Luar Negeri Türkiye, Hakan Fidan di Indonesia. Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo mengapresiasi Presiden Türkiye, Recep Tayyip Erdoğan, dan pemerintahannya atas dukungan dan kerja sama dalam proses pemulangan sembilan warga negara Indonesia yang berada dalam misi kemausiaan Global Sumud Flotilla 2.0.

Kedua tokoh membahas kondisi di Iran dan Palestina. Kedua negara setuju memperkuat koordinasi untuk mendorong deeskalasi konflik di Timur Tengah, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Sekretariat Negara pada hari kemarin.

Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI), Purbaya Yudhi Sadewa, menanggapi perkembangan IHSG dan Rupiah yang melemah. Purbaya mengatakan, "Yang menjadi kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi agar terus berjalan dan semakin kuat. Pada akhirnya, kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya."

Dalam siaran pers Kementerian Keuangan yang dirilis Rabu lalu, dijelaskan bahwa pemerintah menilai pergerakan nilai tukar jangka pendek sering dipengaruhi sentimen dan rumor di pasar. Menkeu menilai rupiah akan memiliki peluang menguat setelah dampak kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Indonesia (DHE-SDI) mulai terlihat dalam waktu dekat.

Tidak ada rilis data ekonomi Indonesia yang dijadwalkan dirilis hari ini hingga akhir pekan. Dengan demikian, pendorong pasar saham Indonesia akan didominasi oleh sentimen investor, pernyataan para pejabat, dan faktor-faktor eksternal di depan.

Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,70% yang sama sekali belum berubah hari ini. Imbal hasil ini pada dasarnya tidak menunjukkan pergerakan signifikan sejauh minggu ini setelah gagal mengunjungi kembali tertinggi 2026 di 6,957% pada akhir bulan lalu.

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.