IHSG Menguat ke 5.916, Saham Bank Topang Rebound Menuju ke 6.000
|- IHSG ditutup naik 0,69% ke 5.916, melanjutkan rebound dan kembali mengarah ke level 6.000.
- Kenaikan ditopang saham bank, dengan BRIS, BBRI, dan BBCA menjadi penggerak utama.
- Pasar mencermati cadangan devisa Indonesia dan PMI jasa AS, sementara Rupiah masih berada di sekitar 18.000.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 40 poin atau 0,69% ke 5.916 pada perdagangan Senin, melanjutkan penguatan dari pertengahan pekan lalu dan kembali mengarah ke level psikologis 6.000. Kenaikan tersebut menunjukkan minat beli mulai masuk lagi ke saham-saham besar, meski momentum pasar belum cukup kuat untuk membawa indeks menembus 6.000.
Indeks dibuka di 5.893 dan bergerak dalam rentang 5.857-5.935. Area tertinggi harian di 5.935 menjadi batas terdekat yang perlu ditembus untuk membuka ruang penguatan lanjutan menuju 6.000.
Saham Bank Menopang IHSG, Sentimen Global Ikut Menguatkan Pasar
Kenaikan terutama ditopang oleh saham-saham perbankan. PRIMBANK10 menguat 1,54% ke 145, sementara INFOBANK15 naik 1,41% ke 792. Di kedua indeks tersebut, BRIS menjadi penggerak utama dengan kenaikan 4,9% ke 1.835. BBRI juga menguat 3% ke 2.790, sementara BBCA naik 1,2% ke 6.125.
Dari semua sektor, masih ada tiga sektor yang mencatat penutupan di zona merah. IDXNONCYC melemah tipis 0,03% ke 648, IDXINFRA turun 0,05% ke 1.744, dan IDXVESTA28 terkoreksi 0,36% ke 124.
Nada positif di pasar global ikut menopang sentimen IHSG untuk melanjutkan rebound. Di Wall Street, Dow Jones naik 1,14% dan NYSE Composite menguat 0,93%, meski Nasdaq terkoreksi 0,80%. Di Asia, Hang Seng dan TOPIX masing-masing naik 1,14% dan 0,92%, sementara MSCI Asia Pacific menguat 1,94%.
Pasar juga menangkap sinyal positif dari rencana efisiensi belanja program makan bergizi gratis. Pemangkasan anggaran tersebut dinilai dapat meredakan sebagian kekhawatiran fiskal, terutama ketika stabilitas Rupiah dan cadangan devisa Indonesia masih menjadi perhatian investor.
Pasar Tunggu Cadangan Devisa dan PMI Jasa AS
Perhatian pasar kini beralih ke rilis cadangan devisa Indonesia, terutama karena Rupiah masih bergerak di sekitar wilayah 18.000 per Dolar AS. Pada data sebelumnya, cadangan devisa turun USD1,4 miliar menjadi USD144,9 miliar dari USD146,2 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi Rupiah oleh Bank Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan kebutuhan valas domestik musiman.
Peringatan Fitch membuat data cadangan devisa menjadi lebih sensitif bagi pasar. Lembaga itu sebelumnya menyebut penurunan cadangan devisa yang tajam dan berkelanjutan, terutama jika dipicu arus keluar modal akibat melemahnya kepercayaan investor, dapat menambah tekanan terhadap profil kredit Indonesia.
Selain cadangan devisa, pasar juga akan mencermati rilis PMI jasa Amerika Serikat malam ini, termasuk PMI Jasa ISM, yang dapat memengaruhi arah Dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed menjelang risalah rapat FOMC Rabu.
Indikator Ekonomi
PMI Jasa ISM
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sen Jul 06, 2026 14.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 54
Sebelumnya: 54.5
Sumber: Institute for Supply Management
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.