IHSG Menguat 0,50% ke 8.322, Ditopang Kesehatan dan Konsumsi
|- Indeks naik 41 poin; sektor kesehatan dan siklikal memimpin penguatan.
- Saham transportasi dan keuangan melemah, teknologi bergerak terbatas jelang laporan Nvidia.
- Pasar mencermati pidato Trump, dinamika tarif AS, serta data transaksi berjalan domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu, naik 0,50% atau 41 poin ke level 8.322 dari posisi sebelumnya 8.280, didukung penguatan saham sektor kesehatan dan konsumsi siklikal di tengah sentimen global yang relatif konstruktif.
Sepanjang sesi, indeks dibuka di 8.318 dan sempat menyentuh level tertinggi 8.373 sebelum menetap di kisaran 8.259-8.373. Kenaikan dipimpin oleh IDXHEALTH yang melonjak 2,73% ke 1.990, disusul IDXCYCLIC yang naik 2,71% ke 1.222 dan IDXINDUST yang menguat 2,21% ke 2.045. Di sisi lain, IDXTRANS turun 1,69% ke 2.222, IDXFINANCE melemah 0,23% ke 1.500, sementara IDXTECHNO terkoreksi tipis 0,21% ke 8.658.
Fokus investor global kini tertuju pada laporan keuangan Nvidia dan Salesforce yang dijadwalkan rilis setelah penutupan perdagangan di Wall Street. Saham Nvidia bergerak terbatas menjelang pengumuman, di tengah sorotan terhadap prospek belanja AI, sementara muncul informasi bahwa perusahaan belum merealisasikan penjualan chip H200 ke Tiongkok.
Dari sisi global, Presiden AS Donald Trump dalam pidato State of the Union menyatakan ekonomi AS “kembali bangkit”, mengklaim inflasi inti turun ke 1,7% pada akhir 2025 serta produksi energi mencapai rekor tertinggi. Trump kembali menegaskan tarif sebagai pendorong pemulihan ekonomi, meski mengkritik putusan Mahkamah Agung yang membatasi kewenangan tarifnya. Sementara itu, dolar AS belum menunjukkan penguatan lanjutan di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan meski data terbaru menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board naik ke 91,2 pada Februari dari 89,0.
Di tingkat kawasan, ekonom DBS menilai pembatalan tarif IEEPA oleh pengadilan AS dan penggantian dengan skema MFN plus levy 15% hingga Juli 2026 berpotensi menurunkan tarif efektif bagi Indonesia dan sejumlah negara ASEAN lainnya. Namun, ekonom Commerzbank mengingatkan bahwa peralihan kebijakan tersebut belum sepenuhnya aman secara hukum dan dapat memicu tantangan baru, yang pada akhirnya berisiko menekan dolar jika ketegangan politik kembali meningkat.
Perubahan kebijakan tarif AS tersebut dapat memengaruhi arus perdagangan dan pergerakan dolar, yang pada gilirannya berdampak pada posisi eksternal Indonesia. Ekonom UOB mencatat neraca transaksi berjalan Indonesia kembali mencatat defisit sebesar USD2,54 miliar atau 0,7% dari PDB pada kuartal IV 2025, meski secara tahunan defisit 2025 lebih kecil dibanding tahun sebelumnya. Ke depan, UOB memprakirakan defisit dapat melebar menuju sekitar 1% PDB pada 2026 seiring kenaikan impor dan tekanan berkelanjutan pada komponen pendapatan primer.
Pemerintah juga memperpanjang penempatan dana Rp200 triliun di perbankan hingga September 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kebijakan tersebut, yang dikoordinasikan dengan Bank Indonesia, telah membantu menurunkan suku bunga kredit tertimbang menjadi 8,80% pada Januari 2026 dari 9,20% setahun sebelumnya, guna memperkuat likuiditas dan mendukung pembiayaan domestik.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.