IHSG Melonjak 1,68% ke 6.501 saat Imbal Hasil Treasury Turun, Asia Menguat
|- IHSG melonjak 1,68% atau 107 poin ke 6.501, setelah bergerak di kisaran 6.444–6.514.
- IDXBASIC melonjak 3,46%, sementara AMMN naik 8,0% dan BUMI menguat 4,4% di antara saham dengan aktivitas perdagangan tinggi.
- Mayoritas bursa Asia menguat setelah imbal hasil Treasury AS turun, sedangkan kenaikan harga minyak lebih dari 2% tetap menjadi risiko bagi sentimen.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada perdagangan Kamis, ditutup naik 1,68% atau 107 poin ke 6.501 dari 6.394 pada Rabu. Kenaikan berlangsung ketika sentimen risiko di kawasan Asia membaik setelah penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS, sementara dari dalam negeri keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga sehari sebelumnya menjadi latar kebijakan bagi pasar. Di sisi lain, kenaikan harga minyak lebih dari 2% tetap menjadi faktor risiko.
IHSG dibuka di 6.447 dan sempat mencapai 6.514, sebelum mengakhiri perdagangan sedikit di bawah level tertinggi hariannya. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham hari ini mencapai sekitar Rp15,78 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 77,09 miliar saham dalam 2,26 juta transaksi.
AMMN dan BUMI Menguat di Tengah Aktivitas Perdagangan Tinggi
Penguatan juga terlihat pada sejumlah indeks, dengan IDXBASIC melonjak 3,46% ke 1.796, JII naik 2,46% ke 390, dan ECONOMIC30 bertambah 2,35% ke 89.
Di antara saham dengan nilai transaksi terbesar, AMMN melonjak 8,0% ke 4.470, setelah bergerak di kisaran 4.240–4.510, dengan nilai transaksi sekitar Rp716,6 miliar. Saham tersebut mencatat beli bersih asing sekitar Rp408,1 miliar. BUMI naik 4,4% ke 190 dengan nilai transaksi sekitar Rp681,4 miliar dan beli bersih asing sekitar Rp59,8 miliar. Sementara itu, GOTO stagnan di 50 dengan nilai transaksi terbesar sekitar Rp907,8 miliar, disertai jual bersih asing sekitar Rp58,5 miliar.
Penurunan Imbal Hasil Treasury Mendukung Sentimen Asia
Sentimen eksternal membaik setelah Kementerian Keuangan AS memperbesar program buyback obligasi jangka panjang. Ukuran pembelian kembali surat utang bertenor 10–30 tahun akan dinaikkan dari maksimal US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi mulai 9 September, dalam upaya mendukung likuiditas pasar. Pengumuman tersebut diikuti meredanya tekanan di pasar obligasi, dengan imbal hasil Treasury 10 tahun sempat turun ke sekitar 4,65% pada Rabu, sebelum naik tipis ke sekitar 4,68% pada Kamis, sementara tenor 30 tahun berada di sekitar 5,19%. Wall Street kemudian berakhir sedikit lebih tinggi, dengan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq masing-masing naik sekitar 0,2%.
Penurunan imbal hasil (yield) tersebut menyedot perhatian pasar lebih besar dibandingkan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juli yang masih menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi dan kemungkinan perlunya pengetatan lebih lanjut jika tekanan harga bertahan.
Di Asia, KOSPI melonjak 5,89%, Nikkei 225 naik 1,36%, Hang Seng 0,80%, ASX 200 0,33%, dan Shanghai Composite 0,24%, sedangkan STI turun 0,39%. Reli Korea juga mengikuti pemulihan saham teknologi setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Sentimen di Jepang mendapat tambahan dukungan dari data perdagangan. Ekspor Jepang melonjak 23,2% secara tahunan pada Juli, melampaui prakiraan 19,9% dan mencatat laju pertumbuhan tercepat sejak Oktober 2022. Pengiriman peralatan semikonduktor naik 49,1%, mencerminkan kuatnya permintaan terkait industri kecerdasan buatan.
BI Bertahan, Harga Minyak Tetap Menjadi Risiko
Dari dalam negeri, pasar mencerna keputusan BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada Rabu, bersama suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Dari sisi fiskal, pemerintah juga mengumumkan akan melelang delapan seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 26 Agustus dengan target indikatif Rp10 triliun untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2026. Pengumuman lelang tersebut lebih menjadi agenda pasar obligasi dan fiskal ketimbang katalis langsung pergerakan IHSG hari ini.
Meski sentimen terhadap aset berisiko membaik, harga minyak tetap tinggi di tengah berlanjutnya ketidakpastian konflik di Timur Tengah dan gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz. WTI naik 2,12% ke US$87,65 per barel, sementara Brent menguat 2,55% ke US$93,96. Kenaikan harga energi menjadi risiko bagi Indonesia melalui biaya impor dan tekanan inflasi, meski dampaknya terhadap masing-masing saham atau sektor tidak seragam.
IHSG Menguji Batas Atas Ascending Triangle
Secara teknis, IHSG ditutup di 6.501 setelah sempat menyentuh tertinggi harian 6.514 pada perdagangan Kamis. Indeks menguji dan sempat menembus batas atas pola Ascending Triangle, tetapi penutupannya masih berada tepat di sekitar area breakout dan sedikit di bawah Moving Average (MA) 100 di 6.503, sehingga penembusan belum sepenuhnya terkonfirmasi. Relative Strength Index (RSI) naik ke 62,47 dari 57,67 pada Rabu dan tetap di atas level netral 50, menunjukkan momentum penguatan yang meningkat tanpa memasuki wilayah overbought. Di sisi atas, area 6.503–6.515 (MA 100 dan dekat tertinggi Kamis) menjadi resistance terdekat, dengan penembusan yang lebih meyakinkan membuka jalan menuju 6.635 (tertinggi 19 Mei). Sebaliknya, support terdekat berada di sekitar 6.444 (terendah Kamis), kemudian level psikologis 6.400.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.