IHSG Melonjak 1,56% ke 6.374 setelah BI Tahan Suku Bunga, Seluruh Sektor Menguat
|- IHSG berbalik menguat 1,56% ke 6.374 pada penutupan perdagangan Rabu setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75% dan memperbesar insentif lindung nilai.
- Seluruh sektor saham berakhir di zona hijau, dipimpin bahan baku yang melonjak 3,48% dan energi sebesar 2,59%, sementara saham BBRI, BBCA, dan BUMI mencatat nilai perdagangan tertinggi.
- Bursa Asia bergerak beragam di tengah penurunan harga minyak dan harapan meredanya konflik AS–Iran. Investor selanjutnya menantikan data PMI AS serta perkembangan kebijakan suku bunga The Fed.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 97 poin atau 1,56% ke 6.374 pada penutupan perdagangan Rabu, 23 September 2026, membalikkan pelemahan sehari sebelumnya ketika indeks berakhir di 6.277. Penguatan pasar saham domestik berlangsung setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya sekaligus memperbesar insentif lindung nilai untuk menarik modal asing dan memperkuat stabilitas Rupiah. Kenaikan saham sektor bahan baku dan energi menjadi penopang pergerakan indeks, sementara penurunan harga minyak dunia dan harapan meredanya konflik AS–Iran turut mendukung sentimen pasar global.
Seluruh Sektor Menguat, BBRI dan BBCA Ramai Diperdagangkan
Kenaikan IHSG meluas ke seluruh sektor, dipimpin bahan baku (IDXBASIC) yang melonjak 3,48%, disusul energi (IDXENERGY) sebesar 2,59% dan barang konsumen siklikal (IDXCYCLIC) sebesar 2,49%. Sektor perindustrian (IDXINDUST) turut menguat 2,21%, sementara properti (IDXPROPERT) bertambah 1,99%. Sebaliknya, sektor keuangan (IDXFINANCE) hanya naik 0,56% dan kesehatan (IDXHEALTH) relatif stagnan dengan kenaikan 0,01%. Penguatan juga tercermin pada indeks LQ45 yang meningkat 1,21% ke 633 dan IDX30 yang naik 1,03% ke 350.
Saham-saham perbankan dan pertambangan turut menguat pada perdagangan Rabu. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik Rp10 ke Rp3.190, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bertambah Rp100 ke Rp6.300. Dari sektor pertambangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat Rp9 ke Rp193, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik Rp10 ke Rp960, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melonjak Rp160 ke Rp4.870.
BI Perbesar Insentif Lindung Nilai, BEI Siapkan Batas Harga Saham Rp1
Keputusan BI mempertahankan BI-Rate di 5,75%, suku bunga Deposit Facility di 4,75%, dan Lending Facility di 6,50% disertai penguatan kebijakan stabilisasi nilai tukar. Bank sentral meningkatkan insentif pengurangan premi Swap Beli Lindung Nilai dari sebelumnya 12,5% untuk seluruh tenor menjadi 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk 12 bulan. Insentif DNDF lindung nilai turut diperbesar menjadi 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk 12 bulan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan aliran masuk modal asing di tengah tekanan eksternal terhadap Rupiah, yang pada perdagangan Rabu berbalik menguat 0,31% ke Rp17.795 per Dolar AS.
Perkembangan lain datang dari Bursa Efek Indonesia (BEI), yang akan menurunkan batas harga minimum perdagangan saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai 28 September 2026, disertai penyesuaian ketentuan Auto Rejection (AR). Perubahan ini berlaku bagi saham dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) di pasar reguler maupun pasar tunai. Berdasarkan IDNFinancials, terdapat 50 saham yang berada di harga Rp50, termasuk PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Kebijakan tersebut memungkinkan saham-saham yang sebelumnya tertahan di batas minimum Rp50 diperdagangkan dalam rentang harga yang lebih luas, sekaligus membuka risiko penurunan harga lebih lanjut bagi investor.
Bursa Asia Beragam, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS–Iran
Penguatan IHSG berlangsung ketika pasar saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Rabu. Kospi Korea Selatan menguat 0,90% ke 7.080 dan ASX Australia naik tipis 0,09% ke 8.765. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong melemah 1,01% ke 24.834, Shanghai Composite Tiongkok turun 0,39% ke 3.936, sementara Straits Times Singapura terkoreksi tipis 0,07% ke 5.719. Bursa Jepang masih tutup karena libur Silver Week. Di tengah pergerakan tersebut, harga minyak dunia kembali tertekan oleh membaiknya prospek pasokan dari Timur Tengah, setelah Arab Saudi mengoperasikan kembali jalur pipa East-West dan muncul harapan akan kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran.
Sementara itu, Wall Street berakhir bervariasi pada perdagangan Selasa. Nasdaq Composite naik 0,45% ke 27.214, didukung penguatan saham-saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI), sedangkan S&P 500 ditutup relatif datar di 7.764 dan Dow Jones melemah 0,36% ke 51.863. Tim Riset Danske Bank mencatat bahwa optimisme pasar yang sempat muncul akibat penurunan harga minyak mulai kehilangan momentum menjelang penutupan perdagangan AS. Meski harga energi dan imbal hasil obligasi yang lebih rendah memberikan dukungan bagi pasar saham, prospek kenaikan suku bunga lanjutan The Fed masih membayangi sentimen investor.
Ke depan, perhatian investor tertuju pada rilis awal Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) AS dari S&P Global pada Rabu malam untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai aktivitas ekonomi dan arah kebijakan moneter The Fed. CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 89%. Selain data ekonomi AS, perkembangan konflik Timur Tengah dan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping akan turut dicermati sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar saham global dan domestik pada perdagangan berikutnya.
Indikator Ekonomi
PMI Jasa S&P Global
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa S&P Global, yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS. Karena sektor jasa mendominasi sebagian besar perekonomian, PMI Jasa merupakan indikator penting yang mengukur keadaan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Data tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif senior di perusahaan swasta dari sektor jasa. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya dan dapat mengantisipasi perubahan tren dalam rangkaian data resmi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), produksi industri, lapangan kerja, dan inflasi. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, sebuah tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Sementara itu, angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas di antara penyedia jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Sep 23, 2026 13.45 (Pendahuluan)
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 56
Sebelumnya: 56.5
Sumber: S&P Global
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.