IHSG Melemah Tipis ke 8.265, Investor Cermati Sentimen Global dan Prospek Domestik
|- IHSG turun 0,31% ke 8.265 dengan pergerakan intraday 8.220-8.334, mencerminkan volatilitas moderat.
- Saham BUMN dan komoditas menguat, sementara sektor konsumsi dan kesehatan masih tertekan.
- Data tenaga kerja AS, arah suku bunga global, serta isu fiskal domestik membentuk sikap hati-hati pelaku pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, turun 0,31% ke level 8.265 dari posisi sebelumnya 8.290. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 8.220-8.334, mencerminkan volatilitas moderat seiring investor cenderung selektif menimbang dinamika global dan domestik.
Dari sisi sektoral, saham berbasis BUMN dan komoditas masih menunjukkan daya tahan, dengan IDXMESBUMN naik 1,86%, IDXBASIC menguat 1,46%, dan IDXBUMN20 bertambah 1,13%. Sebaliknya, tekanan terlihat pada sektor konsumsi dan kesehatan, tercermin dari pelemahan IDXNONCYC (-0,60%), IDXCYCLIC (-0,92%), serta IDXHEALTH (-1,25%). Mengonfirmasi rotasi minat investor ke saham berbasis fundamental domestik tertentu.
Sentimen eksternal tetap menjadi perhatian. Bursa Asia bergerak beragam, dengan ASX Australia naik 0,32%, KOSPI Korea Selatan melonjak 3,13%, dan Shanghai Composite bertambah 0,47%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 0,86% dan Nikkei Jepang melemah tipis 0,02%. Hal ini terjadi di tengah sikap hati-hati para pelaku pasar terhadap arah suku bunga global dan kekuatan dolar AS.
Data Nonfarm Payrolls (NFP) AS Januari yang lebih kuat dari prakiraan — penambahan sekitar 130 ribu pekerjaan dan pengangguran turun ke 4,3% — turut membentuk ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) belum terburu-buru melonggarkan kebijakan. Meski revisi data sebelumnya menunjukkan penciptaan lapangan kerja 2025 lebih lemah, pasar kini cenderung melihat peluang pemangkasan suku bunga baru terbuka pada paruh kedua tahun. Indeks dolar sendiri masih bergerak konsolidatif, menandakan sentimen positif terhadap dolar sebagian telah tercermin dalam harga.
Dari sisi domestik, analis Mata Uang Senior MUFG, Lloyd Chan, menilai Indonesia memasuki 2026 dengan momentum pertumbuhan yang tetap kuat meski risiko fiskal meningkat akibat lemahnya penerimaan pajak 2025 dan rencana ekspansi anggaran 2026. Namun, defisit fiskal diprakirakan tetap terjaga di bawah batas 3%, dengan kebijakan ekonomi yang relatif hati-hati.
Di tengah dinamika tersebut, BEI terus mendorong agenda keuangan berkelanjutan melalui penyelenggaraan Asean Climate Forum 2026, yang menyoroti investasi iklim dan pengembangan pasar karbon regional. Pendanaan berbasis ESG yang mencapai sekitar Rp35,5 triliun sepanjang 2025 serta peningkatan aktivitas perdagangan karbon menunjukkan arah pembiayaan hijau semakin menguat, meski sentimen global masih membatasi ruang penguatan aset berisiko, termasuk IHSG.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.