IHSG Melemah ke 6.358 pada Pembukaan Kamis, Saham Bank Tertekan di Tengah Koreksi Wall Street
|- IHSG turun 0,25% ke 6.358 pada awal sesi I Kamis, tertekan saham perbankan dan pelemahan Wall Street.
- Sektor bahan baku dan kesehatan masing-masing turun 0,79%, sementara investor asing mencatat net sell Rp460,78 miliar pada Rabu.
- Nikkei Jepang melonjak 1,54%, minyak Brent turun ke US$102,65, dan IHSG menghadapi support 6.314–6.300.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal sesi I Kamis, 24 September 2026, setelah melonjak 1,56% sehari sebelumnya. IHSG turun 16 poin atau 0,25% ke 6.358 dari penutupan Rabu di 6.374, dengan pergerakan sementara di kisaran 6.331–6.368. Tekanan pada saham perbankan dan sektor bahan baku membayangi perdagangan di tengah pelemahan Wall Street, sementara investor asing masih mencatat penjualan bersih Rp460,78 miliar pada sesi sebelumnya meskipun Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75%.
Saham Perbankan Melemah, Investor Asing Masih Mencatat Penjualan Bersih
Tekanan pada saham berkapitalisasi besar terlihat dari indeks LQ45 yang turun 0,49% ke 630, sedangkan IDX30 melemah 0,47% ke 348. Di antara sektor saham, bahan baku dan kesehatan mencatat penurunan terdalam, masing-masing sebesar 0,79%, diikuti keuangan yang kehilangan 0,35%. Sebaliknya, sektor barang konsumen siklikal memimpin penguatan sebesar 0,62%, sementara transportasi naik 0,20%.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengawali dengan pelemahan sebesar Rp25 ke Rp6.275. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun Rp50 ke Rp4.140, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kehilangan Rp20 ke Rp3.170. Di luar sektor perbankan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah ke Rp191, sedangkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik ke Rp1.075.
Pelemahan pagi ini terjadi setelah IHSG menguat pada Rabu, ketika BI mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75% sekaligus memperbesar insentif lindung nilai melalui transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Meski indeks berhasil pulih pada sesi tersebut, investor asing masih membukukan penjualan bersih sebesar Rp460,78 miliar. Secara kumulatif, arus keluar dana asing sejak awal tahun mencapai Rp75,46 triliun, sehingga perkembangan transaksi investor asing pada Kamis menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati untuk menilai keberlanjutan pemulihan IHSG.
Wall Street Melemah, Nikkei Menguat setelah Libur
Dari pasar global, Wall Street mengakhiri perdagangan Rabu di zona merah. Dow Jones turun 352 poin atau 0,68% ke 51.511, S&P 500 melemah 0,76% ke 7.706, sementara Nasdaq Composite merosot 1,13% ke 26.936. Pelemahan indeks-indeks utama AS tersebut menjadi latar eksternal bagi perdagangan saham Indonesia, di tengah perhatian investor terhadap prospek suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik.
Bursa Asia menunjukkan pergerakan yang beragam pada Kamis pagi. Nikkei 225 Jepang melonjak 1,54% ke 66.021 setelah kembali dibuka usai libur tiga hari perdagangan. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,60% ke 24.684, Shanghai Composite Tiongkok melemah 0,44% ke 3.919, dan Straits Times Singapura kehilangan 0,24% ke 5.696. Indeks ASX Australia turut terkoreksi 0,90% ke 8.686.
Sementara itu, harga minyak dunia mulai turun setelah kenaikan pada perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, minyak Brent kontrak November melemah 0,42% ke US$102,65 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 0,25% ke US$91,93 per barel. Meski mengalami koreksi, harga Brent masih berada di atas US$100 per barel, sehingga perkembangan pasar energi dan dampaknya terhadap inflasi global tetap menjadi perhatian investor.
IHSG Masih Tertekan, Support 6.314–6.300 Jadi Penentu
IHSG masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis pagi, dengan pergerakan di sekitar 6.358 setelah gagal mempertahankan penguatan sehari sebelumnya. Berdasarkan grafik harian, indeks berada di bawah MA 20 periode 6.519 dan garis tren naik jangka menengah yang telah ditembus sejak 11 September. Meski demikian, IHSG masih bertahan di atas MA 100 periode 6.314, yang menjadi penopang terdekat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan indeks belum cukup kuat untuk mengubah kecenderungan koreksi jangka pendek.
Jika tekanan berlanjut, area 6.314–6.300 menjadi support terdekat, disusul terendah 11 Agustus di 6.230 dan terendah 29 Juli di 6.029 apabila pelemahan semakin dalam. Sebaliknya, IHSG perlu kembali menembus resistance 6.400 dan tertinggi 10 Agustus di 6.462 untuk membuka peluang pemulihan menuju MA 20 periode di sekitar 6.519. Selama indeks masih bergerak di bawah area resistance tersebut, kenaikan berpotensi menghadapi tekanan jual.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.