IHSG Melemah 1,62% ke 7.585, Tekanan Sektor Industri dan Ketegangan Timur Tengah Membebani Pasar
|- IHSG turun 124 poin ke 7.585 setelah sempat menyentuh level terendah 7.500 selama sesi perdagangan.
- Sektor industri, siklikal, dan energi memimpin pelemahan di tengah aksi jual yang meluas.
- Investor menanti data Nonfarm Payrolls AS yang dapat memengaruhi arus modal dan sentimen pasar global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah lagi pada perdagangan Jumat, tertekan oleh aksi jual yang meluas di sejumlah sektor utama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Indeks turun 1,62% atau 124 poin ke level 7.585, dari penutupan sebelumnya di 7.710. Sepanjang sesi, IHSG dibuka di 7.699, sempat menyentuh tertinggi 7.700, dan turun hingga terendah 7.500.
Tekanan dipimpin oleh sektor industri yang merosot 3,38% ke 1.876, diikuti sektor siklikal yang turun 3,35% ke 1.044, serta sektor energi yang terkoreksi 2,86% ke 3.970. Sementara itu, sektor non-siklikal turun 0,68% ke 729, sektor teknologi melemah 0,43% ke 7.857, dan sektor transportasi terkoreksi 0,31% ke 1.871, menunjukkan pelemahan yang meluas di sebagian besar sektor.
Sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Teluk Persia, setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman energi global. Kondisi tersebut mendorong harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 10% dalam sepekan sebelum kembali stabil, sementara tarif pengiriman tanker meningkat karena sejumlah kapal menunda pelayaran. Amerika Serikat disebut tengah menyiapkan skema asuransi risiko dan pengawalan keamanan bagi kapal komersial yang melintasi kawasan tersebut.
Di dalam negeri, pemerintah Indonesia berencana mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak untuk memperkuat cadangan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan langkah tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Fasilitas ini akan difokuskan untuk menyimpan minyak mentah sebelum diolah di kilang domestik, dengan investasi sekitar Rp232 triliun untuk pembangunan proyek kilang dan tangki minyak di 18 wilayah, dari Aceh hingga Papua Barat.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah laporan serangan di Minab, Iran selatan, yang menurut media setempat menimbulkan banyak korban. Militer Amerika Serikat mengatakan sedang menyelidiki insiden tersebut dan menyatakan belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab, seraya menegaskan bahwa pasukannya tidak pernah sengaja menargetkan warga sipil.
Kantor HAM United Nations menyerukan penyelidikan independen terhadap insiden tersebut, mengingat serangan terhadap fasilitas sipil berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.
Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat untuk Februari yang dijadwalkan pukul 20:30 WIB. Konsensus pasar memprakirakan pertumbuhan lapangan kerja melambat menjadi sekitar 59.000, turun dari 130.000 pada bulan sebelumnya.
Bagi pasar domestik, hasil data ini berpotensi memengaruhi arah arus modal dan sentimen risiko global, yang pada gilirannya dapat memengaruhi pergerakan IHSG. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi menopang dolar AS dan menahan minat investor terhadap aset berisiko di emerging markets, sementara hasil yang lebih lemah dapat membuka ruang stabilisasi bagi pasar saham regional, termasuk Indonesia.
Indikator Ekonomi
Nonfarm Payroll (NFP)
Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Mar 06, 2026 13.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 59Rb
Sebelumnya: 130Rb
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.