fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Melanjutkan Penurunan di Bawah SMA 200-Hari, Pemerintah Umumkan Kebijakan Pemberian THR

  • IHSG turun untuk tiga hari perdagangan berturut-turut pada Rabu ini.
  • Pemerintah menyiapkan anggaran Rp55 triliun untuk THR aparatur negara.
  • Emas Antam turun Rp77.000 namun tetap di atas Rp3.000.000.

IHSG berada di 7,789,49 yang lebih rendah 1,89% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap bawah di 7.896,37 dan merayap turun untuk mencatatkan terendah hari 7.897,81 dalam satu jam pertama perdagangan. Indeks melanjutkan penurunan dari awal minggu di tengah masih berlanjutnya sentimen risk-off yang ditimbulkan oleh konflik AS-Israel melawan Iran. Indeks berisiko memperkuat tren bearish jika menutup hari ini di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari.

Indeks-indeks saham Indoensia merah di pagi ini. LQ45, JII, ISSI, KOMPAS100, dan lainnya sempat mengalami penurunan di atas 2%. Saham-saham dalam indeks LQ45 sebagian besar negatif, namun, ITMG dan MEDC menjadi pengecualian yang masing-masing naik 3,10% dan 3,42%. Emiten-emiten energi ini tampak mendapatkan sentimen positif di tengah meningkatnya harga-harga komoditas di balik ketegangan di Timur Tengah.

Pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan Bonus Hari Raya (BHR) pada hari kemarin. Dalam konfrensi pers oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan pemerintah menyiapkan anggaran Rp55 triliun untuk THR sekitar 10,5 juta aparatur negara dengan perincian aparatur sipil negara (ASN) termasuk pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta pensiunan. Anggarannya sendiri meningkat 10% dari tahun sebelumnya, seperti diinformasikan dalam situs Sekretariat Negara.

Sementara untuk sektor swasta, Airlangga menegaskan bahwa THR wajib dibayar penuh, tidak boleh dicicil, dan paling lambat dibayarkan pada tujuh hari sebelum Idul Fitri. Diprakirakan nilai THR sektor swasta sebesar Rp124 triliun.

Pemerintah mengharapkan THR dapat mendorong konsumsi, menggerakkan ekonomi nasional secara signifikan. Itu semua di atas Paket Stimulus Ekonomi I-2026 yang mencakup kebijakan diskon transportasi, work from anywhare (WFA), dan bantuan pangan. Bantuan diskon transportasi sebesar Rp911,16 miliar dan bantuan pangan sebesar Rp14,09 triliun.

Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,551% pada hari ini, yang tampak berhenti sejenak setelah mencatatkan tertinggi baru 2026 di 6,608% pada hari kemarin. Imbal hasil ini terus mencatatkan tertinggi baru tahun dalam tren naik yang berasal dari terendah 2026 di 6,088%.

Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp3.045.000 yang lebih rendah Rp77.000 dari harga kemarin, seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Perubahan ini menyusul harga Emas dunia yang ditutup turun 4,39% di $5.088 per troy ons pada hari kemarin dan sempat menyentuh terendah hari $4.996. Pelemahan tersebut diduga karena pembaruan permintaan Dolar AS di balik berkurangnya prospek penurunan suku bunga AS. Hal tersebut karena kekhawatiran munculnya kembali inflasi di balik kenaikan harga minyak baru-baru ini

Ke depan, peristiwa di Timur Tengah tetap menjadi pendorong utama sentimen di pasar yang pada akhirnya memengaruhi minat investor pada aset-aset safe haven seperti Emas. Di samping itu, kalender ekonomi AS akan merilis data penting pada hari ini seperti Perubahan Ketenagakerjaan ADP, PMI Gabungan (Composite PMI) S&P Global, PMI Jasa ISM, serta Beige Book Federal yang berpotensi memberikan dorongan jangka pendek untuk Emas.

Grafik Harian IHSG

Grafik harian IHSG, 4 Maret 2026

IHSG secara teknis mengubah trennya menjadi bearish karena ditutup tepat di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari pada hari kemarin. Mengingat posisinya, perlu penurunan lebih lanjut untuk memastikan trennya sedang berubah. Dukungan tren bearish berasal dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari yang berada di 30,71 mengindikasikan momentumnya bearish dan masih ada ruang di sisi bawah sebelum masuk ke zona jenuh jual.

Dalam kasus IHSG melanjutkan penurunan, support teknis muncul di 7.712,34 (terendah 3 Februari 2026), 7.481,98 (terendah 2026 yang dicapai pada 29 Januari), dan 7.240 (tertinggi 26 Mei 2025). Sementara jika indeks kembali merebut level-level di atas SMA 200-hari, resistance yang perlu dihadapi muncul di 8.000 (level angka bulat), 8.437,08 (tertinggi Februari 2026), dan 8.596,17 (tertinggi 28 Januari 2026).

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.