fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Melanjutkan Koreksi dari Tertinggi Februari Kembali di Bawah 8.300 Jelang Data Neraca Pembayaran Indonesia

  • IHSG berisiko ditutup merah dua hari berturut-turut setelah meraih tertinggi Februari.
  • Terjadi penandatanganan 11 MoU senilai $38,4 miliar antra AS dan Indonesia.
  • Bank Indonesia mempertahankan suku bunga seperti prakiraan.
  • Neraca Pembayaran menjadi data terakhir Indonesia untuk pekan ini.

IHSG menunjukkan pergerakan di 8.246,19 yang lebih rendah 0,36% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap atas di 8.300,22 dan naik ke tertinggi hari 8.328,42 di awal-awal pembukaan. Namun demikian, kenaikan itu berumur pendek karena indeks berbalik arah untuk turun ke terendah hari 8.236,75 dalam satu jam pertama perdagangan. Indeks tampak mencerna keputusan suku bunga terbaru Bank Indonesia serta menjelang data neraca pembayaran Indonesia dalam waktu dekat.

Indeks-indeks saham Indonesia sejauh ini menunjukkan kinerja beragam. INFOBANK15 dan IDXBUMN20 menjadi dua indeks dengan kinerja terbaik di sesi pertama. IDXBUMN20 didorong oleh saham-saham seperti SMGR (+3,50%), SMBR (+1,42%), BBRI (+1,06%), ELSA (+0,62%), dll hari ini.

Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, menjadi saksi atas penandatanganan 11 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) senilai $38,4 miliar antara para pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat yang berlangsung di Amerika Serikat pada Rabu lalu. Spektrum kerja samanya terlihat lebar, dari pertembangan dan energi hingga agribisnis, tekstil, furnitur, dan teknologi.

Dalam acara yang sama, Presiden Prabowo mengatakan, "Saya juga berada di sini untuk menyelesaikan sebuah perjanjian perdagangan besar antara kedua negara kita. Kita telah bernegosiasi sangat intens selama beberapa bulan terakhir, dan saya pikir kita telah mencapai kesepakatan yang solid dalam banyak isu,", seperti diinformasikan dalam situs Presiden RI.

Seperti prakiraan, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, dengan perincian BI-Rate tetap di 4,75%, suku bunga Deposit Facility di 3,75%, dan suku bunga Lending Facility di 5,50%. BI mempertahankan BI-Rate tidak berubah sejak Oktober 2025, melanjutkan jeda di tengah siklus penurunan suku bunga yang dimulai sejak September 2024.

Dalam konfrensi pers pasca Rapat Dewan Gubernur (RDG), bank sentral menyebut bahwa keputusan ini konsisten dengan fokus untuk penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi untuk mencapai target inflasi 2026-2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bank sentral Indonesia mengklaim bahwa mereka mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut sejalan dengan prakiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam target 2,5±1%. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2026 melambat menjadi 3,2% dari 3,3% di tahun lalu.

Terkait mata uang, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak negatif ketidakpastian pasar keuangan global. Bank menilai Rupiah undervalued dibandingkan fundamental ekonomi Indonesia. Untuk itu, BI terus memperkuat intensitas stabilisasi nilai tukar Rupiah baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

Hari ini, Bank Indonesia akan merilis data Neraca Pembayaran Kuartal 4 2025 pada pukul 03:00 GMT (10:00 WIB). Data ini menjadi data terakhir untuk pekan ini. Data penting terdekat setelah itu adalah Uang Beredar M2 Indonesia untuk bulan Januari pada Senin depan.

Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,458% pada pagi ini, belum banyak bergerak setelah kemarin naik 0,53%. Kenaikan tersebut membuat imbal hasil semakin dekat dengan tertinggi 2026 di 6,464% yang diraih sebelumnya bulan ini.

Emas Antam untuk berat 1 gram dijual di harga Rp2.944.000 hari ini yang menunjukkan kenaikan sebesar Rp28.000 dari harga kemarin Rp2.916.000 seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Kenaikan tersebut menyusul kenaikan ringan 0,38% dalam harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup di $4.996 per troy ons kemarin. Emas kembali gagal untuk ditutup di atas level penting $5.000 meskipun sempat meraih tertinggi hari di $5.022.

Kumpulan data dari AS pada Jumat ini berpotensi sebagai penggerak untuk harga Emas. Di antara data tersebut adalah Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE), Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI), Ekspektasi Konsumen, dan lainnya. PCE inti akan menjadi perhatian utama mengingat ini merupakan pengukur inflasi yang disukai The Fed dan dapat membentuk ekspektasi pasar terhadap keputusan-keputusan suku bunga bank sentral di tahun ini.

Grafik Harian IHSG

Grafik harian IHSG, 20 Februari 2026

IHSG sedikit mundur setelah meraih tertinggi baru mingguan di area 8.376 yang juga merupakan level tertinggi sejak 2 Februari 2026. Tren jangka lebih panjang indeks sejauh ini masih naik karena bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Average ini juga berfungsi sebagai support dinamis yang kuat saat menahan penurunan besar yang terjadi selama akhir Januari hingga awal Februari 2026.

Namun demikian, indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 43,69 menunjukkan bahwa momentumnya masih bearish. Terlihat berusaha mengumpulkan tenaga untuk melewati level netral 50 setelah bangkit dari zona jenuh jual.

Penurunan lebih lanjut apa pun akan membuat IHSG memiliki kemungkinan untuk menemukan support di 7.895,99 (SMA 200-hari), 7.712,34 (terendah 3 Februari 2026), dan 7.481,98 (terendah 2026 yang dicapai pada 29 Januari). Sementara di sisi atas, resistance teknis muncul di 8.596,17 (tertinggi 28 Januari 2026), 8.980,23 (penutupan 27 Januari 2026), dan 9.000 (level angka bulat).

Indikator Ekonomi

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.

Baca lebih lanjut

Rilis terakhir: Kam Feb 19, 2026 07.30

Frekuensi: Tidak teratur

Aktual: 4.75%

Konsensus: 4.75%

Sebelumnya: 4.75%

Sumber: Bank Indonesia

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.