IHSG Masih Merah di Bawah 6.000, Pemerintah akan Melebur BUMN Menjadi sekitar 250 Perusahaan
|- IHSG melanjutkan kinerja lesu Jumat lalu di bawah 6.000.
- Pemerintah akan merampingkan BUMN menjadi 250 perusahaan.
- Menkeu Purbaya menempatkan dana Rp400 triliun ke Himbara.
IHSG berada di 5.865,26 yang lebih rendah 0,52% dari penutupan Jumat lalu pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap atas di 5.932,02 dan naik sedikit untuk meraih tertinggi hari 5.942,77. Namun demikian, indeks kesulitan untuk menindaklanjuti gap atas dan malah merayap turun ke terendah hari 5.843,09 di sesi pertama. Berita tentang efisiensi BUMN dan penempatan dana oleh pemerintah untuk memperkuat likuiditas perbankan terlihat tidak memberikan dorongan signifikan pada pasar saham Indonesia di tengah kosongnya kalender ekonomi hingga akhir bulan.
Indeks-indeks saham Indonesia sebagian besar merah pada sesi pertama perdagangan Senin ini. INFOBANK15 turun 1,37% yang menjadi salah satu indeks dengan penurunan terbesar sejauh hari ini yang ditekan oleh BBRI (-1,39%), BBTN (-1,35%), BBNI (-1,20%), BMRI (-0,75%), BRIS (-0,58%), dan saham-saham perbankan lainnya. Saham-saham ini tampak tidak terdorong oleh pengumuman soal penempatan dana sebesar $400 triliun kepada bank-bank milik negara, tetap tertekan.
Dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 pada hari Minggu kemarin, Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, mengatakan bahwa beliau ingin BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang rasional, efisien, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Sekretariat Negara.
Presiden Prabowo menginformasikan sudah menutup lebih dari 200 dari lebih dari 1.000 BUMN yang pada akhirnya hanya akan ada 250 BUMN. Presiden mengatakan, "Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat."
Pemerintah Indonesia menempatkan dana sebesar $400 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk memperkuat likuiditas perbankan. Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan, "Kalau uangnya diatur cukup seperti yang kita desain, pertumbuhan kredit tahun ini tebakan saya bisa 14-15 persen", dikutip dari situs Kementerian Keuangan Jumat lalu. Namun demikian, belum ada informasi tentang perincian alokasi dana tersebut sejauh ini.
Menteri Purbaya lebih lanjut mengatakan penguatan likuiditas di sektor perbankan tidak menganggu kesehatan fiskal. Beliau mengklaim kondisi fiskal aman dan defisit tidak akan lebih dari 3%.
Kalender ekonomi Indonesia kosong pada hari ini dan hingga akhir bulan. Data ekonomi terdekat yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar Indonesia adalah Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur S&P Global untuk bulan Juni, Neraca Perdagangan bulan Mei, dan Inflasi bulan Juni yang semuanya akan dirilis pada hari Rabu, 1 Juli 2026.
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun menutup Jumat lalu di 7,182% yang tidak bergerak sepanjang hari. Meskipun demikian, imbal hasil ini masih mempertahankan tren naik dalam jangka lebih panjang yang membuatnya meraih tertinggi 2026 di 7,532% pada 9 Juni.
Indikator Ekonomi
PMI Manufaktur S&P Global
Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menangkap kondisi bisnis di sektor manufaktur. PMI manufaktur merupakan indikator penting dari kondisi bisnis dan kondisi perekonomian secara keseluruhan di Indonesia. Hasil di atas 50 merupakan sinyal bullish bagi Rupiah, sedangkan hasil di bawah 50 dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jul 01, 2026 00.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: -
Sebelumnya: 50
Sumber: S&P Global
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.