IHSG Lanjutkan Penurunan di Bawah 5.700, Pemerintah Menurunkan Harga LNG Industri
|- IHSG turun lebih jauh, meneruskan penurunan dua hari perdagangan sebelumnya.
- Pemerintah Indonesia menurunkan harga LNG untuk industri.
- Data PMI Manufaktur, Neraca Perdagangan, dan Inflasi Indonesia akan mengalihkan perhatian.
IHSG berada di 5.675,97 yang lebih rendah 2,49% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap bawah di 5.801,45 dan merayap ke terendah hari 5.638,57 di sesi pertama menuju akhir perdagangan bulan ini. Indeks menuju ditutup merah untuk enam bulan berturut-turut. Pengumuman penurunan gas industri tidak memberikan dorongan signifikan, dengan perhatian para investor tertuju pada rilis data penting pada Rabu besok.
Indeks-indeks saham Indonesia melanjutkan penurunan hari kemarin. LQ45 turun 2,53% karena sebagian besar saham dalam indeks ini merah. Yang paling menonjol adalah DEWA (-5,19%), AMMN (-5,15%), BBCA (-3,80%), ANTM (-3,68%), MDKA (-3,04%), dan lain-lain.
Saham AMMN, ANTM, dan MDKA yang terkait dengan Emas mengalami penurunan sejauh ini di tengah kemerosotan harga Emas dunia (XAU/USD) yang sempat mencatatkan terendah baru 2026 di $3.942 per troy ons pada perdagangan sesi Asia hari ini, juga level terendah sejak November 2025.
Harga LNG (Liqufied Natural Gas) non-HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu) akan diturunkan menjadi $13/MMBTU dari $20,57/MMBTU untuk tingkat konsumen akhir di wilayah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Ini merupakan hasil dari aspirasi yang disampaikan asosiasi pelaku industri dari sektor keramik dan industri-industri lainnya. Karena mahalnya gas industri berpotensi menimbulkan pemutusan hubungan kerja sebanyak 55.000 karyawan di pabrik-pabrik keramik di Bekasi.
Sementara harga gas bumi HGBT masih mengacu pada ketentuan Pemerintah di $6,5/MMBTU untuk bahan baku dan $7/MMBTU untuk bahan bakar. Gas pipa non-HGBT di wilayah Jawa Barat di tingkat pelanggan tetap di rata-rata $9,6/MMBTU.
Para investor bisa bersiap menghadapi data Indonesia yang bisa memengaruhi sentimen pasar dalam bentuk Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur S&P Global untuk bulan Juni yang akan dirilis pada Rabu besok pukul 00:30 GMT (07:30 WIB).
Setelah itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia akan merilis data Neraca Perdagangan bulan Mei yang mencakup Ekspor dan Impor, serta data Inflasi bulan Juni yang dimulai pada pukul 04:00 GMT (11:00 WIB).
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 7,138% yang belum bergerak sejak pembukaan hari ini. Imbal hasil ini sama sekali tidak bergerak pada hari kemarin di level ini setelah merayap naik dari 6,845% sejak 17 Juni.
Indikator Ekonomi
PMI Manufaktur S&P Global
Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menangkap kondisi bisnis di sektor manufaktur. PMI manufaktur merupakan indikator penting dari kondisi bisnis dan kondisi perekonomian secara keseluruhan di Indonesia. Hasil di atas 50 merupakan sinyal bullish bagi Rupiah, sedangkan hasil di bawah 50 dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jul 01, 2026 00.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: -
Sebelumnya: 50
Sumber: S&P Global
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.