IHSG Lanjutkan Pelemahan ke 6.534, Saham Bank Menguat Setelah Reshuffle Menkeu
|- IHSG turun 0,10% atau 6 poin ke 6.534, melanjutkan pelemahan Jumat setelah sempat jatuh hingga 6.371.
- BBRI melonjak 4,00%, BBCA 2,80%, dan BMRI 1,80%, mendorong PRIMBANK10 naik 2,90% dan membantu IHSG memangkas penurunan.
- Pasar mencermati pergantian Menteri Keuangan, kenaikan minyak di atas US$100 per barel, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin, ditutup turun 0,10% atau 6 poin ke 6.534 dari 6.541 pada Jumat. IHSG sempat jatuh hingga 6.371 sebelum memangkas sebagian besar penurunan, ditopang penguatan saham bank ketika sektor kesehatan, energi, infrastruktur, dan bahan baku masih tertekan. Dari dalam negeri, pasar mencermati reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto yang mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara. Sementara dari eksternal, bursa Asia bergerak beragam, harga minyak kembali melonjak di atas US$100 per barel, dan data inflasi AS mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan ini.
Saham Bank Pangkas Penurunan IHSG, Kesehatan Turun Hampir 3%
Tekanan sektoral berlangsung cukup luas. Sektor kesehatan (IDXHEALTH) turun paling dalam sebesar 2,95%, disusul energi (IDXENERGY) 1,66%, infrastruktur (IDXINFRA) 1,46%, bahan baku (IDXBASIC) 1,42%, dan konsumen siklikal (IDXCYCLIC) 1,19%. Teknologi (IDXTECHNO) melemah 0,78% dan transportasi (IDXTRANS) turun 0,85%. Sebaliknya, sektor keuangan (IDXFINANCE) menguat 0,56% dan industri (IDXINDUST) naik 0,45%.
Saham perbankan menjadi penahan utama indeks pada penghujung sesi. BBRI melonjak 4,00% ke Rp3.400 setelah sempat turun ke Rp3.230, BBCA menguat 2,80% ke Rp6.500 dari level terendah Rp6.275, sedangkan BMRI naik 1,80% ke Rp4.440 setelah menyentuh Rp4.260. Pergerakan tersebut mendorong PRIMBANK10 naik 2,90% dan INFOBANK15 menguat 2,54%. Di sektor energi, BUMI justru melemah 1,90% ke Rp208.
Pergantian Menteri Keuangan Menjadi Sorotan Pasar
Penguatan saham bank menjelang penutupan berlangsung bertepatan dengan pengumuman perubahan kabinet. Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Setelah dilantik, ia mengatakan prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel dan menjaga defisit tetap di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pergantian tersebut menambah fokus pasar terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Selama masa jabatan Purbaya, investor sempat menyoroti pelemahan Rupiah, pelebaran defisit, serta ketidakpastian kebijakan. Pernyataannya mengenai potensi kontribusi sekitar Rp120 triliun dari Danantara ke APBN juga sebelumnya mendapat penjelasan berbeda dari pimpinan Danantara. Karena itu, komunikasi fiskal Suahasil dan kesinambungan kebijakan pemerintah akan menjadi perhatian pasar setelah reshuffle.
Minyak Melonjak, Pasar Menunggu The Fed
Dari regional, bursa Asia bergerak beragam meski Wall Street menguat pada perdagangan sebelumnya. KOSPI turun tajam 3,26%, Nikkei 225 melemah 0,81%, dan Shanghai Composite turun tipis 0,07%. Sebaliknya, Hang Seng naik 0,45%, STI menguat 0,39%, dan ASX bertambah 0,10%. Di Wall Street, Dow Jones sebelumnya naik 0,98%, Nasdaq menguat 0,96%, dan S&P 500 bertambah 0,86%.
Perhatian global kini tertuju pada pertemuan The Fed pekan ini setelah data inflasi AS memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga. IHK (CPI) Agustus naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti bulanan sebesar 0,3% melampaui prakiraan 0,2%. Reuters melaporkan kontrak berjangka suku bunga kini memperhitungkan peluang kenaikan sekitar 90%, sementara 85% ekonom dalam surveinya memprakirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun juga bertahan dekat ambang psikologis 5%.
Risiko inflasi turut meningkat ketika harga minyak kembali melonjak. Brent naik 2,76% ke US$107,50 per barel, sedangkan WTI menguat 2,74% ke US$102,79. Harga energi yang tetap di atas US$100 menambah perhatian terhadap inflasi dan kebijakan moneter global menjelang keputusan The Fed, sekaligus menjadi salah satu risiko eksternal bagi pasar domestik pada perdagangan berikutnya.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.