IHSG Lanjutkan Kenaikan ke Area 5.880 Jelang Data Keyakinan Konsumen Indonesia
|- IHSG memperpanjang kenaikan hari kemarin dari area terendah 2026.
- Bank Indonesia menaikkan tiga suku bunga utama sebesar 25 bp pada hari kemarin.
- Keyakinan Konsumen menjadi data penting selanjutnya untuk pasar Indonesia.
IHSG bergerak di area 5.882,92 yang lebih tinggi 2,37% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia membuka hari di 5.744,05 dan merayap naik ke tertinggi hari 5.883,66 dalam satu jam pertama perdagangan. Indeks melanjutkan kenaikan hari sebelumnya dari dekat terendah 2026 di area 5.317 menyusul keputusan suku bunga Bank Indonesia kemarin.
Indeks-indeks saham Indonesia hijau pada sesi pertama. INFOBANK15 yang naik 3,44% menjadi indeks dengan kinerja terbaik sejauh hari ini. Indeks ini diangkat oleh AGRO (+6,02%), BBNI (+5,81%), ARTO (+4,62%), BBCA (+3,88%), dan lainnya. Pada dasarnya, hampir semua saham dalam indeks perbankan ini positif menyusul kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada hari kemarin yang di luar jadwal biasanya.
Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, melakukan pertemuan dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Istana Merdeka pada Selasa lalu untuk menerima laporan perkembangan ekonomi terbaru.
Setelah pertemuan itu, anggota DEN, Chatib Basri, mengatakan, "Satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah". Beliau menilai pentingnya menjaga kepercayaan publik dan pelaku ekonomi yang bisa dilakukan dengan efisiensi anggaran, termasuk yang terkait dengan MBG (Makan Bergizi Gratis), seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Sekretariat Negara.
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga sebesar 25 bp pada hari kemarin, yang di luar jadwal. Bank sentral menaikkan Bi-Rate menjadi 5,50%, Suku Bunga Deposit Facility menjadi 4,50%, dan Suku Bunga Lending Facility menjadi 6,25%.
Dalam siaran persnya, keputusan ini dibuat sebagai tindak lanjut memperkuat stabilisasi Rupiah dan sebagai tindakan pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam target 2,5±1% Pemerintah serta meningkatkan imbal hasil untuk menarik aliran masuk investasi asing ke dalam negeri.
Bank sentral menilai Rupiah lebih lemah dari prakiraan sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu sehingga perlu menerapkan tindakan untuk memperkuat stabilisasi mata uang dengan meningkatkan imbal hasil dan beberapa insentif untuk menarik investasi dari luar negeri.
Tindakan-tindakan lainnya yang dilakukan adalah menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan; insentif dalam bentuk penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi para investor asing sebesar 10%; pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan lagi untuk perbankan; dan peningkatan intensitas operasi moneter Rupiah dan valuta asing untuk memperkuat stabilisasi Rupiah.
Data penting berikutnya untuk pasar saham Indonesia adalah Keyakinan Konsumen Indonesia untuk bulan April yang dijadwalkan rilis pada pukul 03:00 GMT (10:30 WIB) oleh Bank Indonesia.
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 7,404% yang belum berubah sejauh ini. Imbal hasil ini melonjak untuk mencatatkan tertinggi baru 2026 di 7,532 pada hari kemarin. Namun, imbal hasil memangkas sebagian kenaikan menyusul keputusan kenaikan suku bunga oleh bank sentral pada hari kemarin.
Indikator Ekonomi
Keyakinan Konsumen
Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia mencerminkan perubahan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya. Laporan tersebut mencakup Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) untuk menggambarkan gambaran akurat terkait sentimen konsumen di negara ini.
Baca lebih lanjutInformasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.