IHSG Kesulitan untuk Bertahan di Atas 8.000, Free Float Dinaikkan Bertahap Menjadi 15%
|- IHSG kembali di bawah 8.000 setelah ditutup positif dua hari perdagangan sebelumnya.
- Direktur Utama BEI dan para pemimpin di OJK mengundurkan diri pekan lalu.
- Free float dinaikkan secara bertahap menjadi 15% dari 7,5%.
- PMI Manufaktur Indonesia di Januari 2026 masih ekspansi.
IHSG berada di 7,962,73 yang lebih rendah 4,40% dari penutupan pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap bawah kecil di 8.306,16. Meskipun sempat naik untuk meraih tertinggi hari 8.313,05, indeks memangkas kenaikan tersebut dan turun ke terendah hari 7.904,17 di sesi pertama minggu perdagangan baru. Para investor masih mencerna peristiwa minggu lalu.
Indeks-indeks saham Indonesia sebagian besar merah di sesi pertama. JII sejauh ini menjadi indeks dengan kinerja terburuk yang diseret oleh MDKA (-14,02%), MBMA (-12,86%), BRMS (-12,5%), BUMI (-12,4%), dll.
Perhatian pasar masih tertuju pada pengumuman MSCI pekan lalu yang menunda secara temporer perubahan saham-saham Indonesia di dalam indeksnya. MSCI menuntut transparansi dari BEI dan OJK terkait informasi free float di pasar saham dan memberi waktu hingga Mei 2026 untuk berbenah. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, akan ada risiko pemangkasan bobot saham-saham Indonesia pada indeks MSCI Emerging Market dan risiko penurunan ke Frontier Market.
Iman Rachman mengundurkan diri dari Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat pekan lalu. Dalam siaran pers yang diterbitkan, pengunduran ini merupakan tanggung jawab atas keadaan pasar modal Indonesia baru-baru ini.
Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menjelaskan pada hari Minggu bahwa BEI siap memberikan transparansi reformasi integritas yang diminta MSCI untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Jumat lalu menginformasikan perihal pengunduran diri Ketua Dewan Komisioner; Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK); dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatir, dan Bursa Karbon OJK (DKTK). Dalam siaran pers, pengunduran diri Mahendra Siregar serta KE PMDK dan DKTK adalah sebagai tanggung jawab moral untuk mendukung pemulihan yang diperlukan.
Menyusul peristiwa di atas, OJK menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner. OJK bersama pemerintah dan pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat reformasi pasar modal Indonesia. Batas minimum free float dinaikkan secara bertahap menjadi 15% dari 7,5%. OJK juga akan mendorong penguatan transparansi ultimate beneficial owner (UBO) dan afiliasi pemegang saham. KSEI akan menyampaikan data kepemilikan saham dengan klasifikasi sub-tipe investor kepada BEI. Juga ada rencana demutualisasi BEI untuk mengurangi konflik kepentingan.
Dalam Indikator Stabilitas Nilai Tukar Rupiah yang dirilis Bank Indonesia Jumat lalu, diinformasikan bahwa berdasarkan data transaksi 26 – 30 Januari 2026, nonresiden melakukan jual neto sebesar Rp12,55 triliun dengan perincian jual neto Rp12,40 triliun di pasar saham, Rp2,77 triliun di pasar SBN, dan beli neto Rp2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Di tahun berjalan 2026, berdasarkan data setelmen hingga 29 Januari 2026, nonresiden beli bersih neto Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI, serta jual neto Rp0,10 triliun di pasar SBN.
Beralih ke rilis data, Senin ini para investor akan dihadapkan dengan data Neraca Perdagangan dan Inflasi Indonesia yang akan dirilis mulai pukul 04:00 GMT (11:00 WIB). Sebelumnya hari ini, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia Januari 2026 masih menunjukkan ekspansi di 52,6 yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya 51,2 dan prakiraan 51,4.
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,323% menyusul kelanjutan penurunan dari 6,417%, tertinggi 2026 yang diraih pada 23 Januari. Penurunan tersebut mengindikasikan peningkatan permintaan terhadap obligasi bertenor 10 tahun ini yang dianggap sebagai aset yang lebih aman.
Grafik teknis harian IHSG telah dirusak oleh peristiwa yang terjadi sejak Rabu lalu. Namun demikian, indeks mempertahankan tren naik karena penurunan tajam Kamis pekan lalu dibatasi oleh Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Struktur higher highs dan higher lows yang dibentuk indeks dari terendah 2025 hingga tertinggi sepanjang masa untuk saat ini tidak lagi relevan, namun bisa menjadi level-level teknis yang perlu diperhatikan ke depan.
Relative Strength Index (RSI) di 24,08 masih mengindikasikan bahwa momentumnya bearish dan masuk kembali ke zona jenuh jual. Dalam kasus IHSG terus naik, target terdekatnya adalah 8.596,17 (tertinggi 28 Januari 2026) dan 8.980,23 (penutupan 27 Januari 2026) untuk menutup gap pembukaan besar yang terjadi pekan lalu. Sementara di sisi bawah, SMA 200-hari di 7.787 hari ini bisa menjadi support dinamis dan 7.481,98 (terendah 29 Januari 2026).
(Berita ini diperbaiki pada 2 Februari pukul 11:55 GMT/18:55 WIB menjadi PMI Manufaktur Indonesia di Januari 2026 pada poin pertama, dan bukan Januari 2025 seperti yang ditulis sebelumnya.)
Grafik Harian IHSG
Indikator Ekonomi
PMI Manufaktur S&P Global
Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menangkap kondisi bisnis di sektor manufaktur. PMI manufaktur merupakan indikator penting dari kondisi bisnis dan kondisi perekonomian secara keseluruhan di Indonesia. Hasil di atas 50 merupakan sinyal bullish bagi Rupiah, sedangkan hasil di bawah 50 dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis terakhir: Sen Feb 02, 2026 00.30
Frekuensi: Bulanan
Aktual: 52.6
Konsensus: -
Sebelumnya: 51.2
Sumber: S&P Global
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.