IHSG Kembali Terpuruk ke 5.266, Pasar Global Tunggu FOMC
|- IHSG melanjutkan pelemahan selama dua hari berturut-turut, anjlok 1,99% ke level 5.266 setelah sempat terperosok hingga 5.182.
- Sektor energi dan barang baku memimpin penurunan, sementara saham perbankan berkapitalisasi besar gagal menopang indeks.
- Ancaman penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI terus menggerus kepercayaan investor, meskipun OJK dan BEI mempercepat reformasi pasar modal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terseret tekanan jual pada perdagangan Selasa (27/10), melanjutkan koreksi setelah tren pemulihan pekan lalu terhenti. IHSG merosot 1,99% atau 107 poin ke level 5.266 dari penutupan sebelumnya di 5.373. Indeks sempat menanjak hingga 5.418, tetapi tekanan jual menyeretnya ke level terendah harian di 5.182 sebelum memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan. Kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI masih membayangi sentimen investor, membuat IHSG tertinggal dari sejumlah bursa Asia yang justru menikmati kebangkitan saham teknologi global.
Pelemahan terlihat di hampir seluruh sektor utama, dipimpin energi dan barang baku yang sama-sama terperosok 3,33%. Sektor teknologi menyusul turun 3,16%, infrastruktur 2,95%, dan transportasi 2,83%. Sektor industri menjadi satu-satunya kelompok yang berhasil bertahan di zona hijau dengan kenaikan 1,43%. Tekanan juga melanda saham-saham unggulan, tercermin dari penurunan indeks LQ45 sebesar 1,69%, IDX30 sebesar 1,50%, serta INFOBANK15 sebesar 1,83%.
Saham perbankan masih mendominasi aktivitas perdagangan, dipimpin BBCA dengan nilai transaksi Rp2,24 triliun, disusul BBRI sebesar Rp1,28 triliun dan BMRI Rp1,10 triliun. Namun, ketiganya menghadapi tekanan jual asing, terutama BMRI yang mencatatkan jual bersih (net sell) Rp266,3 miliar, sementara BBCA dan BBRI masing-masing sebesar Rp59,7 miliar dan Rp27,2 miliar. Tekanan tersebut turut menyeret saham BMRI turun 1,02% ke Rp3.870, BBCA melemah 0,81% ke Rp4.900, dan BBRI terkoreksi 0,34% ke Rp2.900. Tekanan lebih tajam menimpa TPIA yang terperosok sekitar 5,9% ke Rp1.360, sedangkan TLKM kehilangan sekitar 4,9% ke Rp2.140.
Ancaman MSCI Terus Menggerus Kepercayaan Pasar
Besarnya tekanan terhadap pasar saham Indonesia kini semakin terlihat dari penyusutan nilai kapitalisasi sepanjang tahun. Pada hari Selasa, Reuters mencatat bahwa IHSG telah kehilangan sekitar 40% nilainya sepanjang 2026, menghapus kapitalisasi pasar lebih dari Rp6.000 triliun atau setara US$330,77 miliar. Ancaman MSCI untuk mengeluarkan Indonesia dari kelompok indeks pasar berkembang (Emerging Market) semakin memperburuk sentimen, sekaligus memunculkan kekhawatiran gelombang penarikan dana dari investor global.
Pemerintah dan otoritas pasar modal terus mempercepat langkah reformasi untuk meredakan kekhawatiran tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (26/10) memperpanjang kebijakan pembelian kembali (buyback) saham tanpa persetujuan RUPS hingga Juni 2027, sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) dengan melibatkan pihak independen. BEI juga bersiap mengeluarkan saham berkategori HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November, serta memperketat pengawasan terhadap dugaan manipulasi perdagangan saham.
Namun, serangkaian kebijakan itu belum sepenuhnya memulihkan keyakinan investor. MSCI masih mempertimbangkan perubahan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market, status yang berisiko mengeluarkan saham-saham domestik dari sejumlah indeks acuan global. Proses konsultasi masih berlangsung hingga 30 April 2027, sebelum keputusan akhir dijadwalkan pada 30 Juni 2027. Aksi capital flight di pasar saham domestik terus berlanjut. Setelah mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp2,03 triliun di pasar reguler pada Senin (26/10), investor asing kembali membukukan net sell sebesar Rp651,26 miliar pada perdagangan Selasa (27/10). Dengan demikian, akumulasi penjualan bersih asing sejak awal tahun telah mencapai Rp97,37 triliun.
Optimisme AI Mengangkat Bursa Asia, IHSG Tertinggal
Berbeda dari Jakarta, sejumlah bursa utama Asia justru menikmati sentimen positif setelah Wall Street menguat berkat kebangkitan optimisme terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Nikkei 225 Jepang melonjak 1,73%, Kospi Korea Selatan melesat 3,09%, dan ASX Australia naik 0,46%. Namun, penguatan tidak merata setelah Shanghai Composite Tiongkok melemah 1,33% dan Hang Seng Hong Kong turun 0,73%. Sebelumnya, indeks S&P 500 dan Nasdaq di Wall Street masing-masing menguat sekitar 0,7% dan 0,8%.
Para ahli strategi Danske Bank menilai pengajuan penawaran umum perdana (IPO) Anthropic, perusahaan pengembang AI, menjadi salah satu pemicu pulihnya minat investor terhadap saham-saham teknologi dan semikonduktor. Anthropic dilaporkan membidik valuasi sekitar US$1,5 triliun, jauh melampaui valuasi US$965 miliar dalam putaran pendanaan sebelumnya. "Investor tentu dapat membangun skenario bullish maupun bearish untuk AI, tetapi pasar jelas memandangnya sebagai skenario bullish," tulis para ahli strategi Danske Bank. Kendati sentimen tersebut membantu mengangkat sejumlah bursa regional, pasar Indonesia masih bergulat dengan persoalan domestik, sementara investor global menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (28/10) di tengah kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga minyak dunia.
IHSG Kembali Tertekan, Support 5.185 Jadi Penentu Arah
Secara teknis, IHSG kembali memperlihatkan dominasi tekanan jual setelah gagal mempertahankan pemulihan di atas 5.400. Indeks sempat menyentuh 5.182, sedikit menembus support 5.185 (terendah 21–22 Oktober), sebelum memangkas pelemahan dan ditutup di 5.266. Jika support 5.185 kembali ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju batas bawah Bollinger Bands di 4.964, kemudian area psikologis 4.900. Sebaliknya, upaya pemulihan akan menghadapi resistance terdekat di 5.400, disusul 5.500, sebelum membuka peluang menuju garis tengah Bollinger Bands di 5.731. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) turun dari 34 ke 32, menandakan momentum bearish masih dominan dan semakin mendekati wilayah jenuh jual.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.