fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Jatuh 1,48% ke 6.405 saat Bursa Asia Menguat, Tunggu PCE AS

  • IHSG turun 1,48% atau 96 poin ke 6.405, sekaligus ditutup di level terendah hariannya setelah sempat menyentuh 6.532.
  • Tekanan jual meluas, dipimpin IDXTRANS yang anjlok 4,15%, meski mayoritas bursa Asia menguat.
  • Pasar mencermati uji kelayakan Destry Damayanti, aksi di DPR pada Kamis, dan data PCE AS malam ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Rabu setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) libur pada Selasa. IHSG ditutup turun 1,48% atau 96 poin ke 6.405, tepat di level terendah hariannya, setelah dibuka di 6.507 dan sempat naik hingga 6.532. Pelemahan tersebut berlawanan dengan mayoritas bursa utama Asia yang menguat, ditopang saham teknologi menjelang laporan Nvidia dan penurunan harga minyak, sementara Rupiah juga menguat. Di dalam negeri, pasar mencermati uji kelayakan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI, dengan perhatian berikutnya tertuju pada data PCE AS malam ini.

Tekanan Jual Kian Berat Menjelang Penutupan

Tekanan terhadap IHSG semakin kuat pada paruh akhir perdagangan. Di antara kelompok saham yang melemah, IDXTRANS menjadi yang paling tertekan dengan turun 4,15% ke 1.713. IDXQ30 turun 0,97%, INFOBANK15 melemah 0,92% ke 845, sedangkan IDXHEALTH terkoreksi 0,73% ke 1.492.

Saham-saham perbankan besar turut bergerak di zona merah. BBRI turun 1,6% ke 3.130, BMRI melemah 1,0% ke 4.160, dan BBCA terkoreksi 0,8% ke 6.350. Di antara saham dengan aktivitas perdagangan tinggi, TPIA merosot 6,0% ke 1.870, sementara DSSA masih mampu naik tipis 0,5% ke 1.070 setelah sempat menyentuh 1.120.

IHSG Berlawanan Arah dengan Mayoritas Bursa Asia

Pelemahan IHSG terjadi ketika sebagian besar indeks utama Asia menguat, ditopang saham teknologi menjelang laporan keuangan Nvidia serta penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi. KOSPI naik 0,97%, Nikkei bertambah 0,62%, Shanghai Composite menguat 0,59%, dan Hang Seng naik 0,56%. Sebaliknya, ASX 200 turun 0,40% dan Straits Times melemah 0,25%. Sentimen positif tersebut mengikuti Wall Street pada perdagangan sebelumnya, ketika rebound saham teknologi mendorong Nasdaq naik 0,66%, S&P 500 bertambah 0,32%, dan Dow Jones menguat 0,30%.

Sentimen eksternal juga mendapat dukungan dari penurunan harga minyak setelah Iran dan Oman kembali membahas kemungkinan koridor pelayaran sementara dan pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Brent turun lebih dari 2% ke sekitar US$86 per barel pada Rabu di sesi Eropa. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap biaya impor energi. Rupiah juga menguat ke Rp17.695 per Dolar AS dari Rp17.705 pada Senin, meski kurs referensi JISDOR BI melemah menjadi Rp17.717 dari Rp17.703.

Destry, Aksi di DPR, dan PCE AS Menjadi Perhatian

Uji kelayakan dan kepatutan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI di Komisi XI DPR turut menjadi perhatian pada Rabu. IDNFinancials melaporkan, sejumlah anggota Komisi XI mempertanyakan independensi BI di tengah target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2028, terutama apabila upaya mengejar pertumbuhan berhadapan dengan kebutuhan menjaga inflasi dan stabilitas Rupiah. Destry menegaskan bahwa sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi bank sentral. “Kata-kata sinergi ini tidak berarti mengurangi kredibilitas dan independensi Bank Indonesia dalam menjalankan tugas-tugasnya,” ujarnya. Ia juga menegaskan BI tetap bekerja sesuai amanat UU P2SK.

Sentimen domestik berikutnya beralih ke rencana aksi demonstrasi di depan DPR pada Kamis. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyebut dua tuntutannya adalah pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi koruptor. Aksi tersebut dapat menjadi perhatian terhadap sentimen aset Indonesia apabila memicu kekhawatiran terhadap stabilitas atau aktivitas ekonomi, meski Polda Metro Jaya sebelumnya menyatakan kondisi Jakarta tetap aman dan kondusif.

Sementara itu, perhatian pasar global malam ini tertuju pada Indeks Harga PCE AS Juli yang dijadwalkan rilis pukul 19.30 WIB. PCE inti diprakirakan meningkat sekitar 3,3% secara tahunan. Hasil yang lebih tinggi dari prakiraan berpotensi kembali mendorong kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga The Fed, menjelang pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada Jumat dalam rangkaian simposium yang berlangsung pada 27–29 Agustus.

Indikator Ekonomi

Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)

Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Agu 26, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 3.3%

Sebelumnya: 3.3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.