fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Hentikan Reli Empat Hari, Jatuh 1,22% ke 5.373

  • IHSG menghentikan reli empat hari, merosot 1,22% ke 5.373 pada Senin.
  • Tekanan jual meluas ke seluruh sektor, dipimpin infrastruktur, energi, dan teknologi.
  • FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, ketika pasar masih mencermati risiko MSCI serta percepatan reformasi OJK–BEI.

Laju pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhenti pada awal pekan setelah indeks merosot 1,22% atau 66 poin ke level 5.373 pada Senin (26/10), berbalik dari penutupan Jumat di 5.439. Indeks sempat mencoba melanjutkan kenaikan hingga menyentuh 5.453 sesaat setelah pembukaan, tetapi tekanan jual segera mengambil alih dan menyeretnya ke level terendah 5.350. Sentimen pasar juga masih dibayangi arus keluar asing setelah investor mencatatkan net sell sekitar Rp1,62 triliun pada Jumat lalu, di tengah ketidakpastian terkait penilaian MSCI terhadap pasar Indonesia.

Mayoritas Saham Terkoreksi, Infrastruktur Pimpin Pelemahan

Pelemahan berlangsung luas dengan 520 saham berakhir di zona merah, berbanding hanya 161 saham yang menguat dan 112 saham stagnan. Nilai transaksi hampir mencapai Rp15 triliun dari sekitar 34 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,83 juta transaksi. Seluruh sektor utama terkoreksi, dipimpin infrastruktur yang terperosok 2,48%, energi 2,36%, dan teknologi 2,06%.

Tekanan pada sektor energi tercermin dari ENRG yang anjlok 6,8% ke Rp820, CUAN turun 5,5% ke Rp482, BUMI melemah 2,1% ke Rp137, dan PTRO terkoreksi 1,3% ke Rp3.050. Sektor industri menyusul turun 1,87%, transportasi 1,59%, serta barang baku 1,58%, sementara sektor keuangan relatif lebih mampu menahan tekanan dengan penurunan 0,56%.

Di antara saham dengan nilai transaksi terbesar, BBCA melemah 1% ke Rp4.940, sementara BRMS terkikis 1% ke Rp426. Tekanan pada perbankan sedikit mereda menjelang penutupan setelah BMRI bertahan di Rp3.910 dan BBRI stagnan di Rp2.910. Sebaliknya, TPIA melawan arus dengan melonjak sekitar 7% ke Rp1.445.

FTSE Jadi Penyeimbang saat Pasar Masih Dibayangi MSCI

Koreksi Senin menjadi ujian pertama terhadap pemulihan IHSG setelah guncangan MSCI. OJK mencatat indeks melonjak 4,9% sepanjang 19–23 Oktober, bangkit dari titik terendah 4.907 pada Senin (19/10) hingga ditutup di 5.439 pada Jumat (23/10). Namun, otoritas tersebut mengingatkan bahwa membaiknya perdagangan pekan lalu belum berarti seluruh tekanan telah berakhir. Investor domestik, aksi buyback emiten, serta pembelian institusi seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi sejauh ini membantu menjaga keseimbangan ketika investor asing masih berada di sisi jual.

Di tengah kekhawatiran terhadap MSCI, FTSE Russell memberikan sinyal yang lebih positif terhadap pasar Indonesia. Dalam pertemuan dengan BEI pada Jumat (23/10), FTSE mengapresiasi reformasi yang telah dilakukan pasar modal Indonesia dan kembali menegaskan bahwa Indonesia tetap berada dalam klasifikasi Secondary Emerging Market sebagaimana laporan 6 Oktober. FTSE juga tidak memasukkan Indonesia ke dalam watchlist, memberikan penyeimbang terhadap kekhawatiran pasar mengenai risiko penurunan klasifikasi oleh MSCI.

OJK dan BEI pada saat yang sama mempercepat agenda reformasi untuk memulihkan kepercayaan investor. Kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS yang semula berlaku hingga akhir tahun diperpanjang sampai Juni 2027, sedangkan Komite High Shareholding Concentration (HSC) diperluas dengan melibatkan pihak independen, akademisi, pelaku industri, dan perwakilan investor asing. BEI menegaskan pengecualian saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November tidak diprakirakan memicu penurunan drastis indeks karena bobot saham yang dikeluarkan akan dialihkan kepada konstituen tersisa. Hasil back test Bursa juga tidak menunjukkan adanya lonjakan akibat perubahan tersebut.

Dari eksternal, tingginya harga minyak tetap membayangi prospek inflasi dan fiskal Indonesia meski harga komoditas tersebut mulai surut pada Senin. Harga minyak masih bertahan di level tinggi setelah melonjak tajam pada pekan sebelumnya, sehingga risiko membengkaknya biaya impor energi dan subsidi belum sepenuhnya menghilang. Pada saat yang sama, investor global bersikap hati-hati menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) serta rangkaian laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS.

IHSG Kehilangan Momentum, 5.400 jadi Resistance Terdekat

Grafik Harian IHSG

Secara teknis, penutupan kembali di bawah 5.400 menunjukkan momentum pemulihan IHSG mulai kehilangan tenaga. Area 5.400 kini menjadi resistance terdekat, disusul 5.500. Penembusan meyakinkan di atas 5.500 dibutuhkan untuk membuka ruang menuju garis tengah Bollinger Band di sekitar 5.774. Sebaliknya, 5.185 (terendah 21 dan 22 Oktober) menjadi support penting pertama; jika ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju batas bawah Bollinger Band 5.020 sebelum menguji area psikologis 4.900. Relative Strength Index (RSI) berada di 34,02, menunjukkan momentum telah bangkit dari kondisi jenuh jual tetapi masih relatif lemah.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.