fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Ditutup Anjlok 1,53% ke 6.267, Tekanan Jual Meluas di Tengah Lonjakan Minyak

  • IHSG merosot 1,53% ke 6.267 setelah kenaikan awal gagal bertahan jelang tinjauan MSCI.
  • Sektor industri, barang konsumen siklikal, dan teknologi memimpin pelemahan, sementara kesehatan naik tipis.
  • Ketegangan AS–Iran yang kembali meningkat mendorong harga minyak dan menghidupkan kekhawatiran terhadap inflasi serta kebijakan The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penurunan pada perdagangan Selasa dan ditutup merosot 1,53% atau 97 poin ke 6.267 setelah kenaikan pada awal sesi kembali gagal bertahan. Tekanan jual meluas ke hampir seluruh sektor, dipimpin industri, barang konsumen siklikal, dan teknologi, ketika kontraksi penjualan ritel domestik serta meningkatnya ketegangan AS–Iran membebani sentimen pasar.

IHSG dibuka di 6.383 dan sempat naik ke 6.388 sebelum berbalik turun hingga 6.230, lalu memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan. Lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran terhadap berlanjutnya gangguan pasokan melalui Selat Hormuz turut meningkatkan risiko inflasi dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara bursa Asia bergerak beragam setelah Wall Street ditutup sedikit lebih rendah. Sepanjang perdagangan, volume transaksi saham mencapai 34,01 miliar lembar dengan nilai Rp14,48 triliun dan frekuensi sebanyak 2,16 juta kali.

Tekanan Jual Meluas, Penjualan Ritel Juni Masih Terkontraksi

Tekanan pasar terlihat luas, dengan sektor industri anjlok 3,49%, barang konsumen siklikal turun 2,69%, dan teknologi melemah 2,57%. Sektor transportasi, yang melonjak pada perdagangan sebelumnya, berbalik turun 0,60%, sementara kesehatan naik tipis 0,19%.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni sebesar 225,0 atau turun 3,0% secara tahunan, meski membaik dari kontraksi 3,9% pada Mei. Untuk Juli, BI memprakirakan penjualan eceran berbalik tumbuh 0,9% secara tahunan menjadi 224,4. Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang tinjauan indeks MSCI periode Agustus, yang berpotensi memicu perubahan komposisi dan bobot saham Indonesia dalam indeks global.

Ketegangan AS–Iran Mengangkat Minyak dan Kekhawatiran Inflasi

Tekanan eksternal meningkat ketika kebuntuan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meredupkan harapan terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz. Komentar Majid Shakeri, penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menilai kesepakatan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump tidak akan tercapai, memperkuat kekhawatiran bahwa ketegangan dapat berlangsung lebih lama. Pernyataan tersebut merupakan pandangan Shakeri, bukan pengumuman resmi pemerintah Iran.

Ketidakpastian tersebut kembali mendorong harga minyak naik tajam. WTI melonjak 2,34% ke US$84,05 per barel, sementara Brent menguat 2,22% ke US$89,67 per barel, ketika pasar mencemaskan berlanjutnya gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga energi juga menambah kekhawatiran terhadap inflasi AS dan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Sementara itu, Wall Street berakhir lebih rendah pada perdagangan Senin, dengan Dow Jones turun 0,11%, S&P 500 melemah 0,06%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,32%. Deutsche Bank mencatat sektor energi justru melonjak 4,63% dan kesehatan naik 1,68%, sehingga membantu membatasi penurunan S&P 500. Sebaliknya, saham produsen chip berada di bawah tekanan, dengan Philadelphia Semiconductor Index merosot 2,94% setelah melonjak 9,25% pada pekan sebelumnya.

Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Selasa. Kospi Korea Selatan naik 0,73% dan Straits Times Singapura menguat 0,98%, sementara Shanghai Composite turun 0,82% dan Hang Seng melemah 1,10%. ASX Australia naik tipis 0,19%. Bursa saham Jepang tutup karena libur Mountain Day.

Perhatian pasar selanjutnya beralih ke data inflasi AS pada Rabu. Pertemuan The Fed berikutnya berlangsung pada 15–16 September, dan pasar saat ini menilai peluang kenaikan suku bunga pertemuan tersebut hampir berimbang. Data ekonomi yang dirilis sebelum pertemuan itu, terutama inflasi, akan menjadi penentu penting bagi arah kebijakan berikutnya.

IHSG Mendekati Batas Bawah Ascending Triangle

Secara teknis, penurunan Selasa membawa IHSG mendekati batas bawah ascending triangle setelah gagal mempertahankan kenaikan di area 6.400. Indeks sempat jatuh ke 6.230 sebelum memangkas sebagian pelemahan dan ditutup di 6.267.

Di sisi bawah, area 6.238 (terendah 4 Agustus) menjadi support terdekat, disusul 6.200 (level psikologis). Jika tekanan berlanjut dan batas bawah ascending triangle ditembus, struktur pemulihan akan melemah dan membuka ruang menuju terendah 30 Juli 6.106 dan 6.052, tempat Simple Moving Average (SMA) 50 berada. Sementara itu, resistance terdekat berada di 6.300, kemudian 6.388 (tertinggi hari ini), sebelum level psikologis 6.400 dan 6.462 (tertinggi 10 Agustus).

Grafik Harian IHSG

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.