fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Berbalik Naik ke 5.096, PMI Manufaktur Menguat di Tengah Perombakan Indeks

  • IHSG ditutup menguat 0,79% ke level 5.096 pada Senin, setelah sempat terperosok di bawah 5.000 pada awal perdagangan.
  • Saham sektor bahan baku dan energi memimpin pemulihan ketika BEI mulai menerapkan perubahan komposisi IHSG dengan mengecualikan saham berkepemilikan terkonsentrasi tinggi.
  • PMI Manufaktur Indonesia melonjak ke 54,0 dan inflasi Oktober melandai, tetapi tekanan dari Wall Street, prospek suku bunga The Fed, dan pemilu sela AS masih membayangi pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan keadaan pada perdagangan pertama November setelah mengawali sesi dengan tekanan jual yang cukup dalam. Indeks sempat terperosok ke 4.981, menembus level psikologis 5.000, sebelum bangkit dan menyentuh tertinggi harian 5.125. Meski sebagian kenaikannya terkikis menjelang penutupan, IHSG tetap mengakhiri perdagangan Senin (2/11) di 5.096, bertambah 39 poin atau 0,79% dari posisi Jumat lalu di 5.057.

Kebangkitan ini memberikan sedikit kelegaan setelah pasar saham Indonesia kehilangan 16,70% nilainya sepanjang Oktober. Namun, pemulihan belum sepenuhnya menghapus kegelisahan investor. Perubahan besar dalam komposisi IHSG mulai berlaku hari ini, sementara ketidakpastian mengenai penilaian pasar saham Indonesia oleh MSCI masih menggantung. Dari luar negeri, tekanan terhadap saham teknologi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) turut membatasi selera risiko menjelang serangkaian rilis ekonomi penting pekan ini.

Bobot IHSG Berubah, Saham Komoditas Memimpin Pemulihan

Perdagangan hari ini sekaligus menandai babak baru penghitungan IHSG setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengecualikan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi tinggi dari indeks. Saham-saham tersebut sebelumnya mewakili sekitar 18% bobot IHSG, yang kini didistribusikan kembali kepada konstituen tersisa. Bobot BBCA meningkat dari 8,75% menjadi 9%, BBRI dari 7,93% menjadi 9%, sedangkan ASII naik dari 3,35% menjadi 4,15%. Langkah pembenahan ini berlangsung di tengah konsultasi MSCI terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market. Meski perubahan komposisi tidak secara langsung mengubah level awal indeks, pergeseran bobot berpotensi memengaruhi sensitivitas IHSG terhadap pergerakan saham-saham tertentu.

Di tengah penyesuaian tersebut, tujuh dari 11 sektor berhasil keluar dari tekanan. Sektor bahan baku tampil paling menonjol dengan lonjakan 2,12%, diikuti energi sebesar 1,53% dan infrastruktur 1,41%. Penguatan juga terlihat di perindustrian sebesar 0,76% dan keuangan 0,39%, meskipun kesehatan, properti, teknologi, serta transportasi masih tertahan di zona negatif. Aktivitas transaksi memperlihatkan respons investor yang beragam. BBCA stagnan di Rp4.980, sementara BBRI naik ke Rp2.820. Di kelompok komoditas, BUMI melesat sekitar 7% ke Rp128, berbanding terbalik dengan AADI yang merosot sekitar 7% ke Rp10.700. TLKM juga kehilangan sekitar 1% ke Rp1.960.

Manufaktur RI Membaik, Inflasi Mereda dan Surplus Dagang Menyempit

Dari sisi fundamental, pasar memperoleh sejumlah kabar yang lebih menggembirakan. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global melonjak menjadi 54,0 pada Oktober dari 52,4 pada September, mencapai level tertinggi sejak Maret 2024. Pada saat bersamaan, inflasi tahunan Oktober melandai menjadi 3,23% dari 3,28%, sementara inflasi inti turun ke 2,56% dari 2,84%.

Namun, di sisi lain, Neraca Perdagangan Indonesia untuk bulan September mencatatkan surplus yang menyusut ke US$3,36 miliar dari US$3,55 miliar pada Agustus. Ekspor tumbuh 11,87% secara tahunan, sedangkan impor meningkat lebih cepat sebesar 18,41%. Samuel Sekuritas menilai penguatan manufaktur belum dapat dianggap sebagai perubahan struktural yang berkelanjutan, terutama karena pertumbuhan tenaga kerja masih terbatas dan biaya bahan baku serta energi meningkat. Dengan demikian, investor masih perlu melihat apakah percepatan aktivitas industri mampu diterjemahkan menjadi perbaikan laba perusahaan dan daya beli masyarakat.

Wall Street Tertekan, Ujian Pemulihan IHSG Belum Berakhir

Sementara kondisi domestik memperlihatkan tanda-tanda perbaikan, pasar global memasuki November dengan sejumlah risiko yang belum mereda. Wall Street menutup pekan lalu di wilayah negatif, dipimpin Nasdaq Composite yang kehilangan sekitar 2%, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,85% dan S&P 500 melemah 0,57%. Kekhawatiran terhadap tingginya belanja kecerdasan buatan (AI), valuasi saham teknologi, serta keberlanjutan pertumbuhan laba menekan kepercayaan investor.

Di sisi lain, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember sekitar 71%, menyusul data ekonomi AS yang tetap tangguh dan inflasi yang persisten. Ketidakpastian politik turut meningkat menjelang pemilu sela AS pada Selasa (3/11), yang akan menentukan komposisi Kongres dan berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal serta regulasi Washington. Di tengah berbagai risiko tersebut, investor juga menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk Apple, Palantir, AMD, Pfizer, dan McDonald's, serta data ISM Manufaktur, ISM Jasa, dan Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada Jumat (6/11). Dari dalam negeri, pertumbuhan PDB kuartal III yang dijadwalkan Kamis (5/11) menjadi ujian berikutnya bagi optimisme terhadap ekonomi Indonesia.

IHSG Rebound dari Bawah 5.000, Tren Bearish Belum Berakhir

Grafik Harian IHSG

Secara teknis, IHSG memperlihatkan upaya pemulihan setelah sempat menyentuh 4.981, sebelum berbalik naik dan ditutup di 5.096. Namun, indeks masih berada di bawah resistance 5.185 (terendah 21–22 Oktober), sehingga kenaikan ini belum cukup untuk mengubah tren bearish. Penembusan di atas level tersebut diperlukan untuk membuka peluang pemulihan menuju 5.400–5.500. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level psikologis 5.000 dapat kembali menyeret IHSG ke 4.900, disusul 4.820 (terendah 20 September 2020). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di 29,67, sedikit di bawah ambang jenuh jual 30, mengindikasikan tekanan jual masih dominan meskipun peluang rebound teknis mulai terbuka.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.