fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Berbalik Menguat ke 5.282, BBCA Redam Tekanan Infrastruktur, Pasar Tunggu The Fed

  • IHSG berbalik menguat 0,31% ke level 5.282, menghentikan pelemahan dua hari beruntun setelah sempat terperosok ke 5.167.
  • Saham BBCA melonjak 7,65% ke Rp5.275, didukung sentimen positif kinerja keuangan sembilan bulan pertama 2026 dan pembelian investor asing.
  • Mayoritas sektor masih melemah, dipimpin infrastruktur dan energi, sementara investor mencermati reformasi BEI serta keputusan suku bunga The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan tekanan jual yang sempat menyeretnya turun tajam pada perdagangan Rabu (28/10). Indeks ditutup menguat 0,31% atau sekitar 16 poin ke level 5.282 dari penutupan Selasa di 5.266, sekaligus memutus tren penurunan selama dua hari berturut-turut. Lonjakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu motor utama pemulihan, di tengah pelemahan mayoritas sektor dan kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia.

IHSG mengawali perdagangan di level 5.249, sempat terperosok hingga 5.167 dan mengakhiri sesi pertama di 5.179, turun 1,65%. Namun, tekanan jual berangsur mereda pada paruh kedua perdagangan. Indeks berhasil membalikkan seluruh kerugiannya hingga mencapai puncak harian di 5.282 menjelang penutupan, meskipun ketidakpastian menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pasar.

BBCA Melonjak, Saham Perbankan Memimpin Pemulihan

Di balik keberhasilan IHSG kembali ke zona hijau, penguatan pasar masih terkonsentrasi pada sejumlah saham unggulan. Hanya tiga dari 11 sektor utama yang mencatatkan kenaikan, dipimpin kesehatan sebesar 1,71%, keuangan 0,80%, dan transportasi 0,31%. Saham-saham perbankan besar tampil lebih menonjol, tercermin dari kenaikan PRIMBANK10 sebesar 2,60% dan INFOBANK15 sebesar 1,77%. Sementara itu, indeks LQ45 dan IDX30 masing-masing menguat 1,21% dan 1,12%, melampaui kenaikan IHSG.

BBCA mencuri perhatian setelah melesat 7,65% atau Rp375 ke Rp5.275. Penguatan tersebut berlangsung setelah BCA melaporkan laba bersih Rp45,2 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 4,2% secara tahunan. Penyaluran kredit meningkat 12,6% menjadi Rp1.063 triliun, dengan kredit produktif tumbuh lebih tinggi sebesar 17,2%. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong juga mengakui adanya peningkatan permintaan kredit, yang mendorong perseroan menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi 10–12%. Namun, penguatan saham perbankan belum merata. BBRI naik 0,69% ke Rp2.920, BRIS menguat 1,90% ke Rp1.070, sedangkan BMRI justru melemah 0,78% ke Rp3.840.

Infrastruktur dan Energi Masih Menjadi Pemberat

Di sisi lain, sektor infrastruktur mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,13%, disusul energi yang melemah 1,33%. Tekanan pada infrastruktur tercermin dari kemerosotan saham PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar 6,82% ke Rp1.570, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 4,17% ke Rp2.070, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 3,27% ke Rp2.070. Pelemahan juga meluas ke sektor barang konsumen nonprimer yang turun 0,66%, barang baku 0,56%, dan barang konsumen primer 0,53%.

Reformasi BEI Berlanjut di Tengah Ancaman MSCI saat Fokus Tertujud ke The Fed

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah lanjutan dalam agenda reformasi pasar modal. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Rabu, BEI menyetujui perubahan anggaran dasar untuk membuka jalan bagi demutualisasi bursa, meskipun pelaksanaannya masih memerlukan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta proses di Kementerian Hukum. BEI juga bersiap mengeluarkan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November. Reformasi tersebut berlangsung ketika MSCI tengah mengkaji kemungkinan penurunan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat Juni 2027. Risiko perubahan status ini masih menjadi sumber ketidakpastian bagi arus modal asing.

Sementara itu, sentimen eksternal relatif lebih positif setelah Wall Street menguat pada Selasa, dengan Nasdaq naik 1,18% dan S&P 500 bertambah 0,60%, ditopang kebangkitan saham teknologi. Penguatan bergerak ke sejumlah bursa Asia pada Rabu, terutama Kospi Korea Selatan yang melonjak lebih dari 6%. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang keputusan The Fed pada Kamis (29/10) dini hari WIB. Bank sentral AS diprakirakan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75–4,00%, meskipun risiko perbedaan pandangan yang cenderung hawkish masih terbuka. Di saat bersamaan, kenaikan harga minyak Brent ke sekitar US$115 per barel akibat serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi menambah risiko tekanan inflasi dan pelemahan Rupiah, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pemulihan IHSG.

IHSG Berupaya Pulih, Tren Bearish Masih Dominan

Grafik Harian IHSG

Secara teknis, IHSG menunjukkan upaya pemulihan setelah sempat menembus support 5.185 (terendah 21–22 Oktober) dan menyentuh 5.167, sebelum berbalik ditutup di 5.282. Namun, tren bearish masih dominan karena indeks tetap bergerak di bawah resistance 5.400–5.500 dan garis tengah Bollinger Bands di sekitar 5.692. Penembusan di atas 5.400 diperlukan untuk membuka peluang kenaikan menuju 5.500. Sebaliknya, jika support 5.185 kembali ditembus, IHSG berisiko melanjutkan penurunan menuju batas bawah Bollinger Bands di 4.918, kemudian level psikologis 4.900. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) naik tipis ke 32,38, mengindikasikan tekanan jual mulai mereda, meskipun momentum pemulihan masih relatif lemah.

Indikator Ekonomi

Keputusan Suku Bunga The Fed

Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Okt 28, 2026 18.00

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 4%

Sebelumnya: 4%

Sumber: Federal Reserve

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.