fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Berbalik Menguat ke 4.919, Saham Perbankan Bangkit di Tengah Gejolak Politik dan Tekanan Global

  • IHSG ditutup naik 0,32% ke level 4.919 setelah sempat terperosok ke 4.824 pada perdagangan Rabu.
  • Saham perbankan turun menopang pemulihan indeks, tetapi delapan dari sebelas sektor masih melemah, dipimpin teknologi dan energi.
  • Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp257,71 miliar di tengah kegelisahan politik domestik, ketidakpastian MSCI, dan dampak kemenangan Demokrat dalam pemilu sela AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan upaya pemulihan pada perdagangan Rabu, 4 November 2026, meskipun masih tertahan jauh di bawah level psikologis 5.000. Setelah sempat terperosok ke 4.824, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir naik 0,32% atau sekitar 15 poin ke 4.919. Kenaikan ini memberikan sedikit kelegaan setelah IHSG anjlok 3,78% pada sesi sebelumnya, tetapi belum cukup untuk mengubah gambaran pasar yang masih rapuh.

Ketidakpastian politik domestik, evaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, serta perubahan lanskap politik Amerika Serikat setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela masih membatasi keberanian investor mengambil risiko. Kekhawatiran terhadap regulasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih ketat turut membebani saham teknologi global, menambah tantangan bagi pemulihan pasar saham Indonesia.

Perbankan Menopang IHSG, Arus Modal Asing Berbalik Positif

Penguatan IHSG belum diikuti pemulihan yang merata. Dari sebelas sektor utama, hanya tiga yang berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau, dipimpin barang baku sebesar 0,91%, barang konsumen primer 0,23%, dan keuangan 0,17%. Sebaliknya, sektor teknologi mengalami penurunan terdalam sebesar 1,54%, disusul energi yang merosot 1,52% dan barang konsumen nonprimer yang kehilangan 1,38%.

Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi pusat perhatian investor. BBCA naik Rp90 ke Rp4.930, sementara BBRI bertambah Rp30 ke Rp2.690 dan BMRI menguat Rp10 ke Rp3.600. Ketiganya berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau, berlawanan dengan BUMI yang terkoreksi Rp4 ke Rp116. Sementara itu, TLKM turut menguat Rp5 ke Rp1.885. Penguatan saham unggulan juga tercermin pada indeks LQ45 yang naik 0,80% dan IDX30 yang bertambah 0,96%.

BEI melaporkan investor mancanegara mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp257,71 miliar atau sekitar US$14,21 juta, berbalik dari tekanan jual yang sebelumnya membayangi pasar. Namun, pembelian tersebut masih tergolong kecil dibandingkan akumulasi penjualan bersih sejak awal tahun yang mencapai Rp98,35 triliun atau sekitar US$5,42 miliar.

Sementara itu, penahanan mantan Kapolri sekaligus Kepala Staf Kepresidenan Listyo Sigit Prabowo bersama dua perwira tinggi Polri terkait dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto menambah ketidakpastian politik. Analis Doo Financial, Lukman Leong, sebagaimana dikutip Liputan6, menilai kasus tersebut berpotensi memperburuk sentimen pasar saham, meskipun kekhawatiran terkait evaluasi MSCI masih menjadi persoalan yang lebih besar bagi investor.

Kemenangan Demokrat di AS dan Ancaman Regulasi AI Membayangi Bursa Global

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS membayangi saham teknologi di tengah kekhawatiran pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI). Deutsche Bank mencatat kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,42% dan 0,49%, setelah Wall Street sebelumnya mencatatkan pemulihan. S&P 500 naik 0,37% ke 7.568 dan Nasdaq menguat 0,83% ke 25.372, sementara Dow Jones turun 0,38% ke 51.786. Deutsche Bank juga menilai pemerintahan AS yang terbagi dapat mempersulit pengesahan stimulus fiskal, sekaligus mendukung permintaan obligasi pemerintah AS.

Bursa Asia bergerak beragam, dengan Nikkei Jepang turun 1,42% ke 62.188 dan ASX Australia melemah 0,59% ke 8.834. Sebaliknya, KOSPI Korea Selatan naik 0,62% ke 5.683, Shanghai Composite menguat 2,16% ke 3.686, dan Hang Seng bertambah 1,67% ke 23.919. Di Eropa, STOXX 600 sebelumnya ditutup turun 0,58%, sementara kontrak berjangkanya kembali melemah.

Perhatian pasar domestik kini beralih ke rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal III pada Kamis (5/11), disusul data cadangan devisa Oktober pada Jumat (6/11). Dari AS, laporan ketenagakerjaan ADP dan aktivitas sektor jasa menjadi perhatian sebelum publikasi Nonfarm Payrolls (NFP) pada akhir pekan.

IHSG Masih dalam Tren Bearish, RSI Beri Sinyal Peluang Rebound

Grafik Harian IHSG

Secara teknis, IHSG masih berada dalam tren bearish meskipun berhasil bangkit dari terendah harian 4.824 dan ditutup di 4.919. Indikator RSI naik tipis ke 26,59 dan tetap berada di wilayah jenuh jual, membuka peluang pemulihan teknis yang belum cukup kuat untuk menandai pembalikan tren. Penembusan level angka bulat 4.900 selama perdagangan menunjukkan tekanan jual masih membayangi, dengan support berikutnya di 4.820 (terendah 24 September 2020) dan 4.754 (terendah 11 September 2020). Sebaliknya, IHSG perlu merebut kembali resistance psikologis 5.000 sebelum membidik 5.185 (sebelumnya merupakan support pada pertengahan Oktober). Tanpa penembusan yang meyakinkan, kenaikan berisiko hanya menjadi rebound sementara di tengah tren penurunan yang masih dominan.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.