IHSG Bangkit 5,66% ke 5.278 setelah Dua Sesi Anjlok, Saham Bank Topang Pemulihan
|- IHSG melesat 5,66% ke 5.278 setelah kehilangan hampir 15% nilainya dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.
- Seluruh sektor menguat, dipimpin transportasi, sementara saham perbankan dan TLKM menjadi motor pemulihan.
- Respons BEI terhadap MSCI meredakan tekanan pasar, tetapi keputusan suku bunga BI pada Rabu menjadi ujian berikutnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit tajam pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, dengan melonjak 5,66% atau sekitar 282 poin ke 5.278, mengakhiri dua sesi kejatuhan beruntun yang mengguncang pasar saham Indonesia. Perburuan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan respons Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap ancaman penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI menjadi penggerak utama pemulihan. Namun, lonjakan tersebut belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran investor terhadap masa depan pasar modal domestik.
Setelah ambruk 11,57% pada Jumat (16/10) dan kembali merosot 3,64% ke 4.996 pada Senin (19/10), IHSG mengawali perdagangan Selasa dengan tekanan jual yang masih tersisa. Indeks sempat dibuka melemah di 4.980 sebelum berbalik menguat, menembus kembali level psikologis 5.000, dan terus menanjak hingga berakhir di 5.278. Pembalikan ini memangkas sebagian pelemahan dari dua sesi sebelumnya, ketika IHSG kehilangan hampir 15% nilainya akibat kepanikan menyusul pengumuman MSCI.
Saham Bank dan TLKM Turut Menggerakkan Kebangkitan IHSG
Seluruh sektor berhasil keluar dari zona merah, dengan transportasi memimpin lonjakan sebesar 8,56%, disusul barang baku 6,63%, infrastruktur 5,61%, dan properti 5,20%. Sektor keuangan menguat 5,07%, tetapi pemulihan saham-saham bank unggulan jauh lebih agresif. Indeks PRIMBANK10 melesat 8,90%, sementara LQ45 dan IDX30 masing-masing naik 8,58% dan 8,93%. Kenaikan yang meluas tersebut menunjukkan kembalinya minat beli setelah tekanan jual besar-besaran pada akhir pekan lalu.
Saham BBCA melonjak sekitar 7% ke Rp5.200, sedangkan BBRI dan BMRI masing-masing melesat sekitar 8% ke Rp2.790 dan Rp3.690. TLKM mencatatkan penguatan lebih besar dengan melambung sekitar 14% ke Rp2.060, sementara BUMI bangkit sekitar 7% ke Rp135. Keempat saham pertama sekaligus mencatat nilai transaksi terbesar, memperlihatkan kuatnya aktivitas perdagangan pada kelompok saham unggulan di tengah pemulihan indeks.
Langkah BEI dan Danantara Meredakan Kegelisahan, Pasar Tunggu Keputusan BI
Perubahan suasana pasar tidak terlepas dari langkah BEI yang mengumumkan dua inisiatif baru setelah bertemu MSCI pada Senin (19/10). BEI berencana mengeluarkan 80 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC), dengan bobot sekitar 18%, dari perhitungan IHSG. Bursa juga akan menambahkan informasi status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1% untuk memperkuat transparansi. Saham-saham HSC tersebut tidak akan dihapus dari pencatatan bursa dan tetap dapat diperdagangkan, sementara waktu penerapan kebijakan masih menunggu pengumuman lebih lanjut.
Optimisme turut mendapat dorongan dari Danantara yang membuka peluang menambah kepemilikan saham pada perusahaan BUMN dengan fundamental baik. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, pada Senin menyatakan bahwa keputusan investasi akan mempertimbangkan kualitas fundamental perusahaan, tanpa merinci emiten sasaran maupun nilai pembeliannya. Di saat bersamaan, sejumlah emiten memperkuat upaya stabilisasi pasar melalui program buyback saham. BBCA, misalnya, menjalankan kembali program buyback pada 19–21 Oktober, sementara sejumlah perusahaan Grup Barito mengumumkan rencana serupa dengan total alokasi maksimal Rp3,5 triliun.
Kebangkitan IHSG bahkan berlangsung ketika mayoritas bursa Asia masih bergulat dengan tekanan jual. Kospi Korea Selatan merosot 3,73%, Hang Seng Hong Kong turun 1,32%, dan Nikkei Jepang melemah 1,30%. ASX Australia serta STI Singapura masing-masing terkoreksi 0,33% dan 0,34%, sedangkan Shanghai Composite hanya menguat tipis 0,12%. Perbedaan arah tersebut memperlihatkan kuatnya pengaruh perkembangan domestik terhadap pemulihan saham Indonesia, meskipun pasar regional masih menghadapi kekhawatiran terhadap valuasi sektor teknologi dan keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI).
Fokus pasar berikutnya tertuju pada keputusan BI, Rabu (21/10). Survei Reuters menunjukkan 15 dari 29 ekonom memprakirakan suku bunga tetap di 5,75%, meski Citibank kini memproyeksikan kenaikan 50 basis poin dan 15 dari 22 ekonom memprakirakan suku bunga mencapai setidaknya 6,00% sebelum akhir tahun. Tekanan Rupiah, harga minyak, dan kebijakan ketat The Fed memperbesar dilema BI di tengah inflasi September sebesar 3,28% (inti 2,84%). Bagi IHSG, keputusan tersebut akan menguji keberlanjutan pemulihan, sementara ancaman penurunan klasifikasi MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih membayangi.
IHSG Rebound Tajam, Tren Bearish Masih Membayangi
Dari perspektif teknis, IHSG menunjukkan pemulihan tajam setelah dua sesi terjun bebas, tetapi tren bearish masih mendominasi grafik harian. Indeks ditutup di 5.278,89, sedikit di atas batas bawah Bollinger Band di 5.231, tetapi masih tertahan di bawah resistance psikologis 5.400. Penembusan level tersebut diperlukan untuk memperkuat peluang pemulihan menuju area 5.951, yang berdekatan dengan garis tengah Bollinger Band. Namun, selama IHSG bertahan di bawah area tersebut, kenaikan masih berisiko menjadi pemulihan sementara dalam tren penurunan yang lebih besar.
Di sisi bawah, support terdekat berada di sekitar 5.231, diikuti area psikologis 4.900 yang menjadi batas penting setelah kejatuhan sebelumnya. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) naik ke 28,68, tetapi masih berada di wilayah oversold. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual mulai mereda, meskipun momentum pemulihan belum cukup kuat untuk memastikan pembalikan tren.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.