fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Anjlok 4,6% ke 7.577 di Tengah Sentimen Global dan Kekhawatiran Fiskal

  • IHSG anjlok 4,57% ke 7.577, dengan tekanan jual meluas dan seluruh sektor berakhir di zona merah.
  • Sentimen pasar tertekan setelah Fitch menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif meski mempertahankan rating BBB.
  • Gejolak global meningkat, dipicu konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi serta volatilitas pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok pada perdagangan Rabu, turun 4,57% atau 362 poin ke level 7.577 dari penutupan sebelumnya di 7.939. Sepanjang sesi, indeks dibuka di 7.896, sempat menyentuh tertinggi 7.897, sebelum merosot hingga 7.486, mencerminkan tekanan jual yang meluas di pasar saham domestik.

Pelemahan terjadi secara merata dengan seluruh sektor berakhir di zona merah. Penurunan terdalam terjadi pada sektor bahan baku (IDXBASIC) yang anjlok 7,43% ke 2.175, diikuti transportasi (IDXTRANS) yang turun 7,24% ke 1.879, serta sektor siklikal (IDXCYCLIC) yang merosot 6,70% ke 1.044. Sektor perbankan juga terkoreksi, dengan PRIMBANK10 turun 2,56% ke 176, INFOBANK15 melemah 2,87% ke 967, dan IDXHEALTH terkoreksi 2,79% ke 1.844.

Sentimen pasar domestik turut tertekan setelah Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil, meski mempertahankan peringkat utang di level BBB. Lembaga pemeringkat tersebut menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan, tekanan belanja sosial, serta fokus pada target pertumbuhan 8% berpotensi melemahkan prospek fiskal dan sentimen investor. Fitch memprakirakan defisit fiskal Indonesia sekitar 2,9% dari PDB pada 2026, sementara penerimaan negara masih relatif rendah di kisaran 13,3% PDB.

Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi fiskal tetap terkendali. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan APBN dirancang dengan prinsip prudent, disiplin, dan fleksibel, sehingga defisit tetap dijaga di bawah 3% PDB dan rasio utang sekitar 40% PDB. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal untuk meredam guncangan global serta memperkuat pembiayaan melalui penerbitan global bond USD4,5 miliar dalam euro dan renminbi.

Tekanan pasar juga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik memanas setelah Iran mengumumkan pemimpin tertinggi baru Motjaba Khamenei, sementara serangan antara Iran, Israel, dan target AS di kawasan terus berlanjut. Ketidakpastian ini memicu aksi jual di pasar saham global, dengan indeks Kospi Korea Selatan dilaporkan merosot sekitar 12%, sementara harga energi melonjak dengan Brent crude naik sekitar 3% ke atas $83 per barel.

Pasar khawatir gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dapat mendorong harga menuju $90 per barel, yang berpotensi memicu tekanan inflasi global dan meningkatkan volatilitas pasar. Di tengah kondisi tersebut, dolar AS tetap menjadi aset yang relatif diuntungkan dari sentimen risk-off.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah siap menyesuaikan belanja negara jika kenaikan harga minyak global meningkatkan tekanan pada anggaran. Ia memperingatkan bahwa harga minyak sekitar $90 per barel berpotensi memperlebar defisit hingga sekitar 3,6% PDB tanpa penyesuaian belanja.

Di sisi global, analis ING, Chris Turner, menilai data AS seperti ADP payrolls, komponen harga jasa ISM, dan Beige Book The Fed dapat memperkuat pandangan bahwa pelonggaran suku bunga The Fed pada 2026 akan terbatas. Menurutnya, pembacaan harga jasa yang tinggi dapat menopang dolar, meskipun ia meragukan Indeks Dolar (DXY) mampu menembus 100,35 secara berkelanjutan tanpa perbaikan pada kondisi pasar energi.

Di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, pergerakan IHSG diprakirakan masih sensitif terhadap perkembangan global, terutama dinamika harga energi, arah dolar AS, serta arus modal asing. Selama ketidakpastian geopolitik dan tekanan pasar global belum mereda, investor cenderung mempertahankan sikap berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik.

Indikator Ekonomi

PMI Jasa ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Mar 04, 2026 15.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 53.5

Sebelumnya: 53.8

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.