fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904, Aksi Jual Meluas di Tengah Kegelisahan Pasar Global

  • IHSG terperosok 3,78% ke 4.904, menghapus pemulihan sehari sebelumnya dan kembali kehilangan level psikologis 5.000.
  • Seluruh sektor melemah, dipimpin saham barang baku dan energi, sementara tekanan jual asing membayangi saham-saham unggulan.
  • Ketidakpastian MSCI, pemilu sela AS, dan kembali naiknya harga minyak memperburuk sentimen meskipun data ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terjerembap pada perdagangan Selasa (3/11), menghapus seluruh kenaikan sehari sebelumnya dan memperpanjang tekanan yang membayangi pasar saham Indonesia. Indeks ditutup anjlok 3,78% atau 192,54 poin ke 4.904,29, setelah sempat mengawali perdagangan dengan kenaikan ke 5.126 dan menyentuh level tertinggi 5.143. Namun, optimisme tersebut segera memudar ketika gelombang penjualan menyeret IHSG menembus batas psikologis 5.000 hingga mencapai level terendah harian 4.895.

Kejatuhan tersebut berlangsung di tengah berlanjutnya arus keluar modal asing dan kegelisahan terhadap prospek pasar modal Indonesia. Hingga akhir sesi pertama, investor asing mencatat penjualan bersih Rp831,55 miliar, terutama pada BBRI, TLKM, dan ANTM. Ketidakpastian evaluasi MSCI serta perubahan komposisi IHSG yang mulai berlaku pada 2 November turut membayangi keputusan investasi.

Tekanan melanda seluruh sektor, dengan barang baku (IDXBASIC) merosot paling dalam sebesar 6,01%, disusul energi (IDXENERGY) 4,38%, transportasi (IDXTRANS) 3,90%, dan perindustrian (IDXINDUST) 3,81%. Saham-saham unggulan juga terpukul, termasuk BBCA yang turun ke Rp4.840, BBRI ke Rp2.660, BMRI ke Rp3.590, TLKM ke Rp1.880, dan ANTM ke Rp2.400.

Sentimen Global Memburuk, Data Ekonomi Belum Mampu Menahan Tekanan

Di tengah aksi jual tersebut, indikator fundamental domestik sebenarnya memberikan sinyal yang relatif positif. Data Senin menunjukkan inflasi Indonesia pada Oktober melandai menjadi 3,23% secara tahunan dari 3,28%, sementara PMI Manufaktur meningkat ke 54,0 dari 52,4, menandai ekspansi terkuat sejak Maret 2024. Neraca perdagangan September juga mempertahankan surplus US$3,36 miliar. Namun, rangkaian data tersebut belum cukup memulihkan kepercayaan investor. Ke depan, perhatian beralih ke pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III yang dijadwalkan dirilis Kamis (5/11), disusul Cadangan Devisa Oktober pada Jumat (6/11). Kedua indikator akan menjadi ujian berikutnya bagi ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar keuangan.

Dari luar negeri, sentimen risk-off menguat menjelang pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa, ketika Presiden Donald Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan politik akibat tingginya biaya energi dan konflik dengan Iran. Wall Street sebelumnya menunjukkan pergerakan beragam, dengan Nasdaq Composite merosot 1,07% dan S&P 500 turun 0,51%, sementara Dow Jones naik 0,41%. Di sisi ekonomi, ISM Manufaktur AS Oktober meningkat menjadi 55,5 dari 54,5, melampaui estimasi, tetapi indeks harga input yang masih tinggi di 75,2 mempertahankan kekhawatiran terhadap inflasi dan kebijakan ketat Federal Reserve (The Fed). Investor selanjutnya menantikan data ketenagakerjaan ADP, ISM Jasa, dan Nonfarm Payrolls (NFP) untuk menilai prospek suku bunga AS.

Selan itu, ketegangan geopolitik turut memperkeruh prospek pasar setelah harga minyak kembali melonjak pada Selasa, menyusul penurunan lebih dari 7% sehari sebelumnya. Minyak Brent naik 0,8% menjadi US$105,6 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1% ke sekitar US$98, setelah serangan AS terhadap Pulau Qeshm di Iran meredupkan harapan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat. Bagi Indonesia, risiko kenaikan biaya energi menambah tantangan terhadap stabilitas inflasi, fiskal, dan Rupiah. Kombinasi ketidakpastian eksternal, tekanan dana asing, dan rapuhnya kepercayaan investor membuat pemulihan IHSG semakin bergantung pada stabilisasi sentimen global serta kemampuan data ekonomi domestik memberikan alasan baru bagi pelaku pasar untuk kembali mengambil risiko.

Tren Bearish IHSG Kembali Menguat, RSI Masuki Wilayah Jenuh Jual

Grafik Harian IHSG

Secara teknis, IHSG semakin terperangkap dalam tren bearish setelah kembali menembus level psikologis 5.000 dan ditutup di 4.904, mendekati terendah harian 4.895. Kegagalan mempertahankan pemulihan sehari sebelumnya memperlihatkan dominasi tekanan jual, sementara Relative Strength Index (RSI) turun ke 25,75, memasuki wilayah jenuh jual. Kondisi ini membuka peluang pemulihan teknis jangka pendek, tetapi belum memberikan sinyal pembalikan tren yang meyakinkan. Jika support 4.900 ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 4.820 (terendah 24 September 2020). Sebaliknya, upaya pemulihan perlu membawa IHSG kembali melampaui resistance 5.000, kemudian 5.185 (sebelumnya merupakan support pada 22 Oktober), sebelum membuka peluang kenaikan menuju 5.400. Selama indeks bertahan di bawah level-level tersebut, risiko pelemahan lanjutan masih mendominasi.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.