IHSG Anjlok 1,88% ke 6.031, BBRI dan AMMN Jadi Pemberat di Tengah Jual Bersih Asing
|- IHSG anjlok 1,88% ke 6.031 pada Kamis, memperdalam penurunan dari sesi sebelumnya setelah tekanan jual meluas pada saham-saham berkapitalisasi besar.
- Sektor industri, energi, dan infrastruktur mencatat pelemahan terdalam, sementara BBRI, AMMN, dan BMRI menjadi pemberat utama indeks.
- Investor asing membukukan jual bersih Rp859,25 miliar, ketika lonjakan minyak dan imbal hasil Treasury AS turut menekan bursa Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperdalam penurunan pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, dengan anjlok 115,44 poin atau 1,88% ke 6.031,28, setelah sehari sebelumnya melemah 0,75% ke 6.146,72. Indeks sebenarnya sempat menguat pada awal perdagangan dengan dibuka di 6.154,97 dan mencapai level tertinggi 6.179,09. Namun, tekanan jual terus membesar hingga IHSG berakhir di titik terendah sesi, sekaligus mendekati level psikologis 6.000. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar memperburuk kondisi pasar domestik di tengah lonjakan harga minyak, tingginya imbal hasil obligasi Pemerintah AS, dan penurunan serentak bursa Asia.
Saham Perbankan dan Pertambangan Seret IHSG, Asing Kembali Jual Bersih
Tekanan jual melanda sembilan dari 11 sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI), dipimpin sektor industri yang merosot 2,86%, energi 2,77%, dan infrastruktur 2,54%. Sektor barang baku ikut melemah 2,04%, sedangkan keuangan terkoreksi 1,22%. Hanya sektor kesehatan dan transportasi yang bertahan positif, masing-masing menguat 0,70% dan 0,61%. Pelemahan turut menjalar ke saham-saham unggulan, tercermin dari penurunan indeks LQ45 sebesar 1,99%. Berdasarkan data BEI, sebanyak 518 saham melemah, jauh melampaui 187 saham yang menguat, sementara 258 saham lainnya stagnan.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi pemberat terbesar IHSG setelah anjlok 3,50% dan memangkas indeks sebesar 16,20 poin. Tekanan berikutnya datang dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang merosot 6,40% dengan kontribusi negatif 11,04 poin, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang turun 2,44% dan membebani indeks sebesar 7,97 poin. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turut terpuruk 6,67%, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melemah 4,96%. Koreksi juga menimpa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 0,83% ke Rp6.000 dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang kehilangan 2,19%, memperlihatkan tekanan yang meluas pada kelompok perbankan, energi, dan pertambangan.
Laju pelemahan makin diperberat oleh maraknya aksi jual investor asing (net sell). Data BEI memperlihatkan investor asing membukukan penjualan bersih Rp859,25 miliar sepanjang perdagangan Kamis, melanjutkan net sell Rp871,36 miliar pada hari sebelumnya. Dengan demikian, total modal asing yang keluar dari pasar saham domestik mencapai sekitar Rp1,73 triliun dalam dua sesi terakhir. Derasnya capital outflow, khususnya dari saham-saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar, semakin menahan peluang pemulihan IHSG.
Keyakinan Konsumen Melemah, Lonjakan Minyak dan Imbal Hasil AS Menambah Tekanan
Data yang dirilis Bank Indonesia (BI) pagi tadi melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode September melandai ke level 118,1 dari posisi 118,5 pada Agustus. Pelemahan ini terutama dipicu oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang terkoreksi menjadi 107,5 dari sebelumnya 109,4, mengindikasikan berkurangnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi terkini. Meski demikian, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru meningkat menjadi 128,7 dari 127,6, menandakan seluruh indikator utama sejauh ini tetap berada di zona optimistis. Sebelumnya, BI juga mencatat Cadangan Devisa September sebesar US$146,3 miliar—sedikit menyusut dibandingkan US$146,5 miliar pada Agustus, namun dinilai masih memadai untuk menjaga ketahanan eksternal.
Harga minyak Brent yang melambung lebih dari 4% memperburuk pelemahan IHSG. Minyak mentah ini telah melampaui US$104 per barel akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik AS–Iran dan gangguan pasokan energi. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke sekitar 5,35%, sementara risalah rapat Federal Reserve (The Fed) September menunjukkan mayoritas pejabat masih memprakirakan perlunya kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai perkembangan tersebut meningkatkan volatilitas pasar. Tekanan serupa terlihat di kawasan Asia, dengan indeks STI Singapura anjlok sekitar 3,49%, KOSPI Korea Selatan turun 2,62%, Nikkei Jepang 1,42%, dan Hang Seng Hong Kong 1,43%. Pelemahan regional menyusul koreksi Wall Street pada Rabu, ketika Dow Jones turun 0,66%, S&P 500 0,22%, dan Nasdaq 0,22%.
Level 6.000 Kembali Terancam
Dari perspektif teknis, kejatuhan IHSG ke 6.031 mempertegas dominasi tren bearish dalam descending channel yang terbentuk sejak awal September. Indeks gagal mempertahankan pemulihan di atas 6.150 dan kini kembali mendekati level psikologis 6.000. Jika level tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju support 5.973 (terendah 1 Oktober), disusul batas bawah Bollinger Band di sekitar 5.920. Penurunan lebih dalam dapat membawa IHSG menuju support berikutnya di 5.839. Relative Strength Index (RSI) turun ke 35,10, berada di bawah garis sinyal 36,34 dan semakin mendekati wilayah oversold, menunjukkan momentum pelemahan kembali menguat.
Di sisi atas, area 6.150 kini menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus untuk meredakan tekanan jual. Jika berhasil pulih, IHSG berpeluang mengarah ke 6.228 (tertinggi 28 September), sebelum menghadapi hambatan di garis tengah Bollinger Band sekitar 6.267 dan resistance berikutnya di 6.329 (tertinggi 25 September). Namun, selama indeks masih bergerak di bawah area tersebut dan bertahan dalam descending channel, setiap upaya pemulihan berisiko kembali tertahan oleh tekanan jual.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.