IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277, Saham Energi dan Bank Tertekan Jelang Keputusan BI
|- IHSG merosot 1,69% ke 6.277 pada perdagangan Selasa, dengan tekanan pada saham energi dan perbankan di tengah penantian keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
- Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,76%, sementara BBRI dan BUMI menjadi bagian dari saham-saham yang mengalami tekanan jual.
- BEI mengumumkan aturan harga minimum saham Rp1 yang berlaku mulai 28 September, ketika mayoritas bursa Asia menguat mengikuti reli Wall Street.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperdalam pelemahan pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, ditutup turun 1,69% atau 107 poin ke 6.277 dari posisi sebelumnya di 6.384. IHSG dibuka di 6.392 dan sempat menguat hingga 6.423, sebelum berbalik turun ke 6.258. Tekanan pada saham energi dan perbankan menyeret indeks ke bawah 6.300 ketika investor menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan mencermati aturan perdagangan baru BEI. Pelemahan ini berlawanan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia yang menguat mengikuti reli Wall Street.
Saham Energi dan Perbankan Membebani IHSG
Sebanyak 10 dari 11 sektor berakhir di zona merah. Energi (IDXENERGY) mencatat penurunan terdalam sebesar 2,76%, disusul industri (IDXINDUST) yang melemah 2,31%, properti (IDXPROPERT) turun 2,01%, dan bahan baku (IDXBASIC) terkoreksi 1,97%. Sektor teknologi (IDXTECHNO) turut kehilangan 1,59%, sedangkan keuangan (IDXFINANCE) turun 0,85%. Konsumer siklikal (IDXCYCLIC) menjadi satu-satunya sektor yang menguat, naik 0,33%. Tekanan juga terlihat pada indeks LQ45 yang melemah 1,37% ke 625, sementara IDX30 turun 1,64% ke 347.
Di antara saham dengan aktivitas perdagangan terbesar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun sekitar 3% ke Rp3.180, sedangkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merosot sekitar 4% ke Rp184. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi tipis ke Rp6.200, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun ke Rp4.160. Pelemahan saham-saham perbankan tersebut turut tercermin pada indeks INFOBANK15 yang terkoreksi 1,53%, sedangkan penurunan BUMI berlangsung ketika sektor energi mencatat tekanan paling besar.
Keputusan BI dan Aturan Baru BEI Menjadi Perhatian
Investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung pada 22–23 September, di tengah tekanan terhadap Rupiah dan tingginya imbal hasil obligasi global. BI sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada Agustus untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurut Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda, ekspektasi pasar masih mengarah pada keputusan mempertahankan BI-Rate di 5,75% disertai optimalisasi intervensi valuta asing.
Perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September. Perubahan tersebut disertai penyesuaian batas Auto Rejection untuk saham dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Menurut BEI, kebijakan ini bertujuan memperbaiki pembentukan harga dan meningkatkan likuiditas dengan memperluas rentang perdagangan saham yang sebelumnya tertahan di Rp50.
Bursa Asia Menguat Mengikuti Reli Wall Street
Pelemahan IHSG berlawanan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia. Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,15%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,18%, dan Shanghai Composite Tiongkok bertambah 0,06%. Straits Times Singapura juga menguat 0,86%, sementara ASX Australia naik 0,30%. Bursa Jepang masih tutup karena libur nasional. Penguatan pasar regional mengikuti reli Wall Street pada perdagangan sebelumnya, ketika Nasdaq melonjak 2,26% ke 27.122, S&P 500 naik 1,49% ke 7.764, dan Dow Jones menguat 0,71% ke 52.048.
Para ahli strategi Deutsche Bank menyoroti penguatan saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang kembali mendorong kenaikan indeks utama AS. S&P 500 menguat selama tiga sesi berturut-turut dan berada hanya 0,44% di bawah rekor tertingginya, sementara Nasdaq dan kelompok saham Magnificent 7 mencapai rekor baru. Reli tersebut mencerminkan pulihnya minat investor terhadap saham teknologi di pasar global, tetapi sentimen positif itu belum mampu mengangkat IHSG yang masih dibayangi tekanan pada saham-saham besar serta ketidakpastian arah kebijakan moneter domestik.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.