fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Anjlok 1,20% ke 6.298, Saham Bank Tertekan di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Yield AS

  • IHSG anjlok 1,20% ke 6.298 pada penutupan Kamis, berbalik melemah setelah melonjak 1,56% sehari sebelumnya. Seluruh sektor saham berakhir di zona merah.
  • Saham BBCA, BMRI, dan BBRI melemah di tengah tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar, sementara sektor bahan baku dan industri mencatat penurunan terdalam.
  • Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS membayangi pasar saham global. Investor kini menantikan hasil pertemuan Trump–Xi setelah AS dan Tiongkok memperpanjang gencatan dagang.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 76 poin atau 1,20% ke 6.298 pada penutupan perdagangan Kamis, 24 September 2026, berbalik melemah setelah melonjak 1,56% sehari sebelumnya. Seluruh sektor saham berakhir di zona merah, dipimpin bahan baku dan industri, sementara pelemahan saham perbankan turut membebani indeks. Tekanan terhadap IHSG berlangsung meskipun Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75%, ketika kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi serta prospek pengetatan kebijakan moneter The Fed. Investor kini menantikan hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping setelah kedua negara memperpanjang gencatan dagang.

Saham Perbankan Melemah, Seluruh Sektor Berakhir di Zona Merah

Pelemahan saham berkapitalisasi besar terlihat dari indeks LQ45 yang turun 1,57% ke 623 dan IDX30 yang terkoreksi 1,53% ke 345. BBCA melemah sekitar 1% ke Rp6.225, disusul BMRI yang turun 2% ke Rp4.070 dan BBRI kehilangan 1% ke Rp3.140. Ketiga saham perbankan tersebut mencatat nilai perdagangan tertinggi. Di luar sektor keuangan, TLKM melemah 1% ke Rp2.410, sedangkan DSSA menguat 1% ke Rp1.090.

Tekanan jual meluas ke seluruh 11 sektor utama, dipimpin bahan baku yang merosot 2,17% dan industri sebesar 2,10%. Sektor properti menyusul dengan penurunan 1,66%, sementara keuangan melemah 1,32% dan indeks INFOBANK15 terkoreksi lebih dalam sebesar 1,93%. Sektor barang konsumen primer mencatat pelemahan paling terbatas, yakni 0,36%, diikuti energi sebesar 0,62%.

Koreksi IHSG terjadi sehari setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan memperbesar insentif lindung nilai untuk menarik modal asing. Dari sisi likuiditas, BI mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2026 mencapai Rp10.448,1 triliun, tumbuh 8,2% secara tahunan (yoy), sedikit melambat dari 8,3% pada Juli. Sementara itu, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,3% (yoy) dari 13,0% pada bulan sebelumnya, menunjukkan penyaluran pembiayaan masih berkembang di tengah perlambatan tipis pertumbuhan uang beredar. Namun, perkembangan domestik tersebut belum mampu mengimbangi tekanan eksternal dari kenaikan harga energi, penguatan Dolar AS, dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Harga Minyak dan Imbal Hasil AS Meningkat, Bursa Asia Bergerak Beragam

Harga minyak dunia melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis. Berdasarkan data Bloomberg sekitar pukul 16.32 WIB, minyak mentah Brent melonjak 2,15% ke US$105,30 per barel. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar kebutuhan Dolar AS untuk pembayaran impor dan menambah tekanan terhadap Rupiah. Apabila berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi di dalam negeri.

Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 5,15% setelah data aktivitas bisnis AS memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan Federal Reserve (The Fed). PMI Gabungan S&P Global meningkat ke 58,4 pada September dari 56 sebelumnya, dengan PMI Jasa melonjak ke 58,7 dan PMI Manufaktur naik ke 57, keduanya melampaui prakiraan pasar. Menguatnya aktivitas bisnis yang disertai peningkatan tekanan inflasi mendorong probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober mendekati 69%, dari 55,4% sehari sebelumnya.

Tekanan tersebut telah membayangi Wall Street pada perdagangan Rabu, ketika Dow Jones turun 0,68%, S&P 500 melemah 0,75%, dan Nasdaq Composite merosot 1,13%. Para analis Deutsche Bank mencatat bahwa S&P 500 membukukan penurunan harian terdalam dalam sebulan, sementara pelemahan kontrak berjangka saham AS menunjukkan tekanan terhadap aset berisiko masih berlanjut. Di Asia, indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan masing-masing menguat 0,76% dan 0,90%, berlawanan dengan Shanghai Composite Tiongkok yang turun 1,22%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,29%, dan ASX Australia terkoreksi 0,72%.

Gencatan Dagang AS–Tiongkok Diperpanjang, Pasar Menantikan Pertemuan Trump–Xi

Di tengah tekanan pasar global, AS dan Tiongkok sepakat memperpanjang gencatan dagang selama dua bulan hingga 10 Januari 2027, dari jadwal sebelumnya yang berakhir pada 10 November 2026. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa perpanjangan tersebut memberikan waktu tambahan bagi kedua negara untuk merundingkan kesepakatan perdagangan yang lebih luas menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Washington pada Kamis. Meski demikian, sejumlah persoalan terkait tarif, pembelian produk pertanian AS, dan pasokan mineral tanah jarang masih menjadi bagian dari perundingan kedua negara.

Investor selanjutnya menantikan hasil pertemuan Trump–Xi serta data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS untuk memperoleh petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan The Fed. Bagi IHSG, perkembangan perdagangan AS–Tiongkok berpotensi memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, sementara pergerakan Rupiah, harga minyak, dan imbal hasil obligasi AS tetap menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati setelah indeks kembali ditutup di bawah level psikologis 6.300.

Pertanyaan Umum Seputar PERANG DAGANG AS-TIONGKOK

Secara umum, perang dagang adalah konflik ekonomi antara dua negara atau lebih akibat proteksionisme yang ekstrem di satu sisi. Ini mengimplikasikan penciptaan hambatan perdagangan, seperti tarif, yang mengakibatkan hambatan balasan, meningkatnya biaya impor, dan dengan demikian biaya hidup.

Konflik ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dimulai pada awal 2018, ketika Presiden Donald Trump menetapkan hambatan perdagangan terhadap Tiongkok, mengklaim praktik komersial yang tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual dari raksasa Asia tersebut. Tiongkok mengambil tindakan balasan, memberlakukan tarif pada berbagai barang AS, seperti mobil dan kedelai. Ketegangan meningkat hingga kedua negara menandatangani kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok Fase Satu pada Januari 2020. Perjanjian tersebut mengharuskan reformasi struktural dan perubahan lain pada rezim ekonomi dan perdagangan Tiongkok serta berpura-pura mengembalikan stabilitas dan kepercayaan antara kedua negara. Pandemi Coronavirus mengalihkan fokus dari konflik tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa Presiden Joe Biden, yang menjabat setelah Trump, mempertahankan tarif yang ada dan bahkan menambahkan beberapa pungutan lainnya.

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih sebagai Presiden AS ke-47 telah memicu gelombang ketegangan baru antara kedua negara. Selama kampanye pemilu 2024, Trump berjanji untuk memberlakukan tarif 60% terhadap Tiongkok begitu ia kembali menjabat, yang ia lakukan pada tanggal 20 Januari 2025. Perang dagang AS-Tiongkok dimaksudkan untuk dilanjutkan dari titik terakhir, dengan kebijakan balas-membalas yang mempengaruhi lanskap ekonomi global di tengah gangguan dalam rantai pasokan global, yang mengakibatkan pengurangan belanja, terutama investasi, dan secara langsung berdampak pada inflasi Indeks Harga Konsumen.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.