fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Ambruk ke 5.925, Properti Menguat di Tengah Tekanan Saham Teknologi

  • IHSG melemah 0,17% ke 5.925 pada perdagangan Selasa, setelah anjlok 2,59% sehari sebelumnya. Indeks sempat merosot ke 5.828 sebelum memangkas sebagian besar pelemahannya.
  • Sektor properti memimpin penguatan dengan kenaikan 1,83%, sementara teknologi turun 0,95%. Saham perbankan bergerak terbatas, dengan BBCA stagnan dan BMRI terkoreksi tipis.
  • Kejatuhan KOSPI sebesar 5,46% dan pelemahan Nikkei 1,82% membayangi pasar Asia, ketika investor mencermati risiko sektor semikonduktor serta menantikan laporan keuangan bank-bank besar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, dengan turun 10 poin atau 0,17% ke 5.925. Indeks sempat terperosok ke 5.828 sebelum kembali mendekati level penutupan Senin di 5.936. Pemulihan harian tersebut berlangsung setelah IHSG anjlok 2,59% pada sesi sebelumnya, ketika seluruh sektor saham berakhir melemah dan indeks kehilangan level psikologis 6.000.

Sektor Properti Bangkit, Saham Perbankan Bergerak Terbatas

Pergerakan sektoral mulai menunjukkan pemulihan yang tidak merata. Properti memimpin kenaikan sebesar 1,83%, disusul kesehatan 0,53%, energi 0,40%, serta industri 0,29%. Sebaliknya, teknologi masih tertekan 0,95%, sementara konsumer siklikal melemah 0,61% dan keuangan terkoreksi tipis 0,18%. Penguatan sejumlah sektor tersebut belum cukup membawa IHSG keluar dari zona negatif.

Saham-saham yang aktif diperdagangkan turut memperlihatkan pergerakan beragam. BBCA bertahan di Rp5.950, sedangkan BMRI melemah sekitar 0,50% ke Rp3.990. ENRG menguat sekitar 1,61% ke Rp945, berlawanan dengan DSSA yang turun 2,59% ke Rp940 dan SMMT yang terkoreksi 2,70% ke Rp3.610.

Gambaran konsumsi domestik memberikan latar yang relatif lebih positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus tumbuh 1,3% secara tahunan, meningkat dari 1,1% pada Juli. Pertumbuhan penjualan eceran September bahkan diprakirakan mencapai 1,4%, didukung kelompok barang lainnya, perlengkapan rumah tangga, serta barang budaya dan rekreasi. Meski demikian, perbaikan konsumsi belum sepenuhnya meredakan tekanan terhadap pasar saham yang masih menghadapi ketidakpastian global.

Bursa Asia Tertekan, KOSPI Anjlok Lebih dari 5%

Tekanan dari pasar regional membesar setelah KOSPI Korea Selatan anjlok 5,46% ke 6.035 dan Nikkei 225 Jepang merosot 1,82% ke 67.777. Aksi jual saham semikonduktor menjadi pemicu utama, menyusul kekhawatiran terhadap meningkatnya persaingan dari produsen cip memori Tiongkok, ChangXin Memory Technologies (CXMT), yang dilaporkan membuat kemajuan teknologi. Kekhawatiran mengenai prospek keuntungan investasi kecerdasan buatan (AI) turut memperburuk tekanan terhadap saham-saham teknologi Asia.

Namun, Hang Seng Hong Kong menguat 0,30%, Straits Times Singapura naik 0,26%, Shanghai Composite bertambah 0,10%, sedangkan ASX Australia relatif stagnan. Bursa Jepang kembali beroperasi setelah libur Sports Day pada Senin. Pergerakan regional yang beragam memperlihatkan bahwa tekanan jual terutama terkonsentrasi pada pasar dengan eksposur besar terhadap sektor teknologi dan semikonduktor.

Wall Street sebelumnya juga ditutup beragam pada Senin. Dow Jones Industrial Average naik 0,38% ke 51.850, sementara S&P 500 terkoreksi 0,06% ke 7.807 dan Nasdaq Composite melemah 0,44% ke 27.245. Tekanan pada saham semikonduktor dan kekhawatiran terhadap tingginya imbal hasil obligasi membayangi pasar, meski partisipasi saham AS masih relatif luas. Analis Danske Bank mencatat 321 saham anggota S&P 500 menguat dibandingkan 179 yang melemah, menunjukkan bahwa koreksi indeks belum mencerminkan pelemahan merata.

Investor selanjutnya menantikan laporan keuangan kuartal ketiga JPMorgan, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo pada Selasa untuk menilai kondisi sektor perbankan AS di tengah tingginya suku bunga. Agenda lainnya mencakup Penjualan Rumah Lama AS serta pernyataan pejabat The Fed, Christopher Waller, Thomas Barkin, dan Susan Collins. Namun, perhatian utama tertuju pada laporan inflasi konsumen AS September yang dijadwalkan Rabu pekan ini, karena berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed dan arah pasar keuangan global.

Tren Bearish IHSG Masih Mendominasi

Dari perspektif teknis, IHSG masih bergerak dalam descending channel dengan tren bearish yang dominan pada grafik harian. Resistance terdekat berada di 5.973 (terendah 1 Oktober, sebelumnya merupakan support), disusul swing high 6.128. Relative Strength Index (RSI) berada di 32,86 mendekati wilayah oversold, tetapi masih menunjukkan lemahnya momentum pemulihan.

Pada sisi bawah, support berada di 5.828 (terendah hari ini). Penembusan area tersebut berpotensi membawa IHSG menuju 5.607 (terendah 1 Juli), sementara keberhasilan menembus 5.973 dapat membuka peluang rebound menuju 6.218.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.