Harga Emas Antam 22 Juni Bertahan di Rp2,668 Juta, Tren Global Masih Lemah
|- Harga emas Antam tidak berubah di Rp2.668.000 per gram pada Senin.
- Emas dunia turun 0,58% ke sekitar US$4.194 per troy ounce.
- Penguatan Dolar AS membatasi dukungan dari ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam bertahan di Rp2.668.000 per gram pada perdagangan Senin. Meski tidak berubah dari pembaruan sebelumnya, harga tersebut masih berada jauh di bawah posisi pertengahan pekan lalu.
Dibandingkan 18 Juni, harga Antam telah turun Rp35.000 dari Rp2.703.000 per gram. Penurunannya melebar menjadi Rp65.000 jika dibandingkan dengan posisi 17 Juni sebesar Rp2.733.000.
Emas Dunia Tertekan Dolar AS
Pergerakan Antam mengikuti lemahnya harga emas dunia. Emas spot turun 0,58% ke sekitar US$4.194,83 per troy ounce setelah bergerak dalam rentang US$4.136,70-US$4.221,13.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, termasuk perkembangan hubungan AS-Iran dan risiko di Selat Hormuz, masih menjaga sebagian permintaan aset safe haven. Namun, dorongan tersebut belum sanggup melawan penguatan Dolar AS dan prospek suku bunga Federal Reserve yang bertahan tinggi.
Data AS Menjadi Ujian Berikutnya
Pergerakan harga emas global pekan ini akan banyak dipengaruhi oleh arah Dolar AS dan perubahan ekspektasi suku bunga The Fed. Pasar lebih dahulu mencermati PMI Manufaktur dan Jasa S&P Global AS versi pendahuluan pada Selasa, sebelum perhatian beralih ke data inflasi PCE inti Mei pada Kamis.
PMI yang kuat dapat menegaskan ketahanan ekonomi AS dan menjaga Dolar tetap tinggi. Tekanan terhadap emas berpotensi membesar apabila PCE inti kembali menunjukkan inflasi yang membandel, karena pasar akan melihat ruang The Fed untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Sebaliknya, data yang lebih lunak dapat meredakan penguatan Greenback dan membuka ruang pemulihan bagi logam mulia. Risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi penyangga, meski sejauh ini belum mampu mengambil alih pengaruh kebijakan moneter AS.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.