fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Forex Hari Ini di Indonesia: Rupiah Akhiri Pekan Lalu di Bawah Rp18.000, Inflasi dan Neraca Perdagangan Jadi Fokus

Berikut adalah yang perlu diketahui untuk perdagangan Rupiah pada Senin, 3 Agustus:

Indeks Dolar AS (DXY) anjlok pada perdagangan Jumat dan ditutup di sekitar 99,80 setelah sempat mencapai level tertinggi harian 100,46. Tekanan terhadap Greenback turut diperkuat oleh lonjakan Yen, dengan USD/JPY merosot lebih dari 600 poin sepanjang pekan lalu dan ditutup di sekitar 157,45. Data Amerika Serikat sendiri memberikan sinyal beragam. Indeks Biaya Tenaga Kerja kuartal II naik 0,9%, lebih tinggi daripada prakiraan 0,8%, sedangkan sentimen konsumen University of Michigan meningkat ke 55,2. Ekspektasi inflasi satu tahun tetap di 4,2%. Namun, data tersebut gagal membendung tekanan jual terhadap Dolar AS. Pada awal perdagangan Asia, menjelang pembukaan pasar Tokyo, DXY bergerak di sekitar 99,65.

Rupiah menutup perdagangan domestik Jumat dengan penguatan 0,47% atau 85 poin ke Rp17.990 per Dolar AS, dibandingkan penutupan Kamis di Rp18.075. JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp18.058. Sepanjang pekan lalu, pasangan mata uang USD/IDR sempat bergerak naik dari area Rp17.960 dan mencapai level tertinggi sekitar Rp18.105 pada Rabu, sebelum berbalik turun hingga menyentuh Rp17.985 pada Jumat dan mengakhiri pekan kembali di bawah Rp18.000. Pemulihan tersebut berlangsung ketika Dolar AS terkoreksi dan langkah stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia.

Fokus domestik pertama tertuju pada PMI Manufaktur S&P Global Indonesia bulan Juli. Indeks sebelumnya anjlok ke 46,9 pada Juni dari 50,0, menandai kontraksi terdalam dalam satu tahun. Pemulihan indeks mendekati batas 50 dapat meredakan kekhawatiran mengenai perlambatan aktivitas industri, sedangkan kontraksi yang berlanjut berpotensi membatasi penguatan Rupiah.

Badan Pusat Statistik juga akan merilis inflasi Juli. Inflasi tahunan diprakirakan melandai menjadi 3,2% dari 3,34%, sementara inflasi bulanan diproyeksikan turun menjadi 0,1% dari 0,44%. Sebaliknya, inflasi inti diprakirakan naik tipis menjadi 2,8% dari 2,76%. Kombinasi tersebut akan menunjukkan apakah meredanya tekanan harga utama turut diikuti oleh stabilisasi tekanan yang lebih mendasar.

Pada saat yang sama, neraca perdagangan Juni diprakirakan masih mencatat defisit US$0,79 miliar, meski lebih kecil dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei. Ekspor diproyeksikan tumbuh 0,25% secara tahunan setelah turun 5,73%, sedangkan pertumbuhan impor diprakirakan meningkat menjadi 25,3% dari 22,16%. Penyempitan defisit dapat membantu sentimen terhadap Rupiah, tetapi pertumbuhan impor yang tetap jauh melampaui ekspor akan menjaga risiko terhadap posisi eksternal Indonesia.

Rupiah berpeluang mempertahankan pemulihannya di sekitar Rp18.000 apabila PMI manufaktur membaik, inflasi utama melandai, dan defisit perdagangan menyempit sesuai prakiraan. Sebaliknya, kontraksi industri yang lebih dalam atau defisit perdagangan yang kembali melebar dapat mendorong USD/IDR berbalik naik. Brent ditutup naik 1,21% di US$87,93 per barel pada Jumat. Harga minyak yang tetap tinggi berpotensi menambah biaya impor energi Indonesia dan membatasi ruang penguatan Rupiah.

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.