Fokus Hari Ini di Indonesia: Rupiah di Bawah 17.700, Menantikan Data PMI, Neraca Perdagangan, dan Inflasi
|Berikut adalah yang perlu diketahui untuk perdagangan Rupiah pada Kamis, 1 Oktober:
Indeks Dolar AS di 101,49 yang naik 0,02% pada basis harian, indeks mempertahankan posisinya di area yang lebih tinggi meskipun data inflasi AS tidak sesuai ekspektasi semalam. Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS bulan Agustus di 3,4% YoY, di bawah prakiraan 3,7%, dan tidak berubah dari sebelumnya. Sementara PCE Inti, pengukur inflasi yang disukai The Fed, naik 3% YoY sama seperti sebelumnya namun di bawah prakiraan 3,3%. Data ini penting untuk mencari petunjuk keputusan suku bunga kebijakan bank sentral AS ke depan. CME FedWatch tool menunjukkan bahwa probabilitas The Fed menaikkan suku bunga 25 bp pada bulan Oktober adalah 38,2%.
Di samping masih mencerna data di atas, kalender ekonomi AS hari ini memuat data yang berpotensi menjadi penggerak indeks seperti Klaim Tunjangan Pengangguran, PMI Manufaktur S&P Global dan ISM, serta pernyataan dari para pejabat The Fed.
Sementara itu di sisi Rupiah, mata uang ini menutup hari terakhir bulan lalu dengan menguat ke 17.855 per Dolar AS, sedikit memangkas pelemahan bulanan yang pada satu titik mencapai 18.012 pada hari Selasa.
Sorotan kini beralih ke kalender ekonomi Indonesia yang padat hari ini. Data pertama adalah Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia untuk bulan September pada pukul 00:30 GMT (07:30 WIB) setelah pada bulan Agustus kembali ke wilayah kontraksi di 49,8.
Setelah itu, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan sekumpulan data Neraca Perdangan bulan Agustus yang mencakup Ekspor dan Impor serta data Inflasi September yang dimulai pada pukul 04:00 GMT (11:00 WIB).
Indikator Ekonomi
Inflasi (Thn/Thn)
Indeks Inflasi dirilis oleh Indonesia Statistik adalah ukuran pergerakan harga dengan perbandingan antara harga eceran contoh perwakilan barang dan jasa. Kekuatan pembelian Rupiah Indonesia terseret oleh inflasi. IHK digunakan sebagai indikator kunci untuk mengukur inflasi dan perubahan dalam tren pembelian. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk mata uang Rupiah, sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Okt 01, 2026 04.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.3%
Sebelumnya: 3.19%
Sumber: Statistics Indonesia
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.