Batu Bara ICE Newcastle Merayap Turun ke $130 saat Qatar Berencana Kembali Memproduksi LNG
|- Batu Bara ICE Newcastle turun ke terendah baru Juni 2026.
- Distribusi minyak mentah pulih secara perlahan.
- Qatar akan kembali memproduksi gas alam cair.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di $130,00 yang lebih rendah 1,22% dari penutupan hari kemarin. Harga yang lebih rendah itu karena batu bara ini dibuka dengan gap bawah di $130,00 dan belum bergerak sama sekali, level tersebut juga merupakan level terendah baru bulan ini dan level terendah sejak 7 Mei. Komoditas ini melanjutkan penurunannya dari tertinggi 2026 yang dicapai pada 8 Juni di $151,75 di tengah berita bahwa Qatar akan kembali memproduksi gas cair alam.
Gap bawah pada pembukaan membuat indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari terus turun 32,79, memperkuat momentum bearish dan semakin dekat dengan level-level jenuh jual. Jarak antara harga batu bara dengan Simple Moving Average (SMA) 200-hari semakin dekat, mengindikasikan tren naik jangka lebih panjang semakin melemah
International Maritime Organization (IMO) mengumumkan bahwa organisasi ini menerima jaminan keamanan yang diharapkan bisa mengeluarkan ratusan kapal yang sebelumnya terjebak di Telur Persia.
Ekspor minyak UEA selama awal Juni pulih tajam, mencapai 85% level-level pra-perang AS-Iran, seperti diinformasikan International Energy Agency (IEA) berkat memanfaatkan pipa, pusat-pusat penyimpanan, dan koridor-koridor pengiriman alternatif.
Para pembeli internasional dan penyuling-penyuling Amerika Serikat dapat membeli minyak mentah dan produk-produk olahan dari Iran secara legal setelah ada pembebasan selama 60 hari dari Amerika Serikat. Sebelumnya hari ini, Financial Times mengutip Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Tahani, mengatakan bahwa negara akan kembali memproduksi gas cair alam (liquefied natural gas/LNG) dalam beberapa minggu, setelah sebelumnya ladang Ras Laffan diserang selama konflik AS dan Iran.
Kabar-kabar di atas lebih jauh menekan harga-harga komoditas karena meredanya gangguan pasokan yang dialami dalam beberapa bulan ke belakang. Rencana produksi kembali LNG oleh Qatar dapat meredam prospek permintaan batu bara yang selama konflik digunakan sebagai alternatif gas untuk digunakan sebagai pembangkit listrik.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Juni 2026 dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut:
- Batubara (6.322 GAR) $123,91 naik dari $121,83
- Batubara I (5.300 GAR) $88,40 naik dari $84,53
- Batubara II (4.100 GAR) $60,19 naik dari $58,81
- Batubara III (3.400 GAR) $41,19 naik dari $40,32
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.