fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Batu Bara ICE Newcastle Ditutup di 143,80, Menteri ESDM Pastikan Tidak Ada Kenaikan BBM Bersubsidi Hingga Lebaran

  • ICE Newcastle tidak bisa memanfaatkan pembukaan di tertinggi 2026.
  • Negara-negara G7 mencoba mengatasi masalah minyak.
  • Menteri ESDM memastikan tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga lebaran.

Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin i 143,80 yang lebih tinggi 4,73% dari penutupan hari sebelumnya. Pada dasarnya, hasil positif tersebut berkat pembukaan dengan gap atas di 150,00 yang juga tertinggi 2026 yang dicapai pada 3 Maret. Batu bara ini kesulitan untuk memanfaatkan pembukaan tersebut dan malah turun ke terendah hari 142,00 dan sedikit bangkit menuju penutupan, namun masih di bawah level pembukaan. Perhatian pasar tetap tertuju pada konflik AS-Iran yang memengaruhi harga komoditas-komoditas.

Meskipun komoditas ini ditutup di bawah harga pembukaan untuk lima hari perdagangan berturut-turut, tren batu bara ini masih bullish karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Kehati-hatian tetap diperlukan mengingat Relative Strength Index (RSI) masih berada di zona jenuh beli sejak awal bulan ini.

Peristiwa di Timur Tengah masih menjadi pendorong utama sentimen perdagangan global. Yang paling terasa adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang menjadi jalur lalu lintas 20% minyak dunia. Gangguan ini membuat harga Minyak WTI sempat menembus di atas $100 namun kemudian ditutup di area $83 pada hari kemarin. Pasar khawatir peningkatan harga minyak mengakibatkan inflasi secara global yang bisa meredam daya beli.

Koreksi harga minyak terjadi di tengah upaya G7 untuk menstabilkan minyak. Sebelumnya, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan menteri-menteri energi negara-negara Group of Seven (G7) akan melakukan pembicaraan untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak untuk menghadapi gangguan pasokan, seperti dilaporkan oleh CNBC.

Sejauh ini belum ada laporan untuk melakukan tindakan-tindakan untuk mengatasi gangguan pasokan LNG menyusul penghentian produksi pabrik Gas Alam Cair (Liquified Natural Gas/LNG) terbesar Qatar, fasilitas Ras Laffan, di tengah perang di Timur Tengah. Apa pun yang terjadi pada LNG menjadi relevan dengan harga batu bara mengingat batu bara bisa menjadi sumber pembangkit listrik alternatif saat harga LNG menjadi dinilai terlalu tinggi atau pasokannya terganggu.

Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia pada saat berita ini ditulis adalah sekitar 24°C dan diprakirakan tidak hujan sepanjang hari. Cuaca seperti ini akan membuat pemuatan batu bara di pelabuhan menjadi lancar, sehingga cuaca akan dieliminasi dari faktor yang bisa memengaruhi harga pada hari ini.

Sementara untuk Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 102.K/MB.01/MEM.B/2026. Perlu diingat bahwa keputusan ini dibuat sebelum meletusnya serangan AS-Israel ke Iran pada akhir pekan lalu. Perubahan harga dari sebelumnya beragam, ada yang naik dan ada yang turun dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $102,37 turun dari $102,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $71,29 turun dari $71,74
  • Batubara II (4.100 GAR) $47,64 naik dari $47,34
  • Batubara III (3.400 GAR) $34,25 naik dari $33,85

Terkait dengan kenaikan harga minyak dunia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, memberikan kepastian bahwa bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga Idul Fitri 2026. Meskipun terjadi gangguan pasokan dunia karena penutupan Selat Hormuz, Menteri Bahlil mengatakan stok BBM serta LPG di dalam negeri tetap aman, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Menteri Bahlil mengatakan masalahnya bukan di sisi stok karena tidak ada masalah, tapi pada harga. Namun, pemerintah mencoba melakukan langkah-langkah komprehensif untuk menghadapi fluktuasi harga energi global. Bahlil juga meminta masyarakat tetap tenang karena pemerintah menjamin ketersediaan BBM serta tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga lebaran. Sebelumnya juga beliau memastikan pasokan batu bara untuk PLN aman mengingat meningkatnya aktivitas masyarat di bulan Ramadan, terutama saat Sahur sehingga terjadi lonjakan kebutuhan energi listrik.

Grafik Harian ICE Newcastle

Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.