fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Batu Bara ICE Newcastle Berisiko Patahkan Rebound, Kementerian ESDM Terbitkan HBA Baru

  • ICE Newcastle berisiko melanjutkan penurunan dari tertinggi 2026.
  • Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu Baca Acuan baru.
  • Menteri ESDM menjelaskan kuota impor tetap, hanya negara asalnya yang berubah.

Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup pekan lalu di 118,50 yang lebih rendah 0,55% dari penutupan harga sebelumnya. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 119,50 namun tidak bisa memanfaatkannya dan malah turun sepanjang hari. Jika terus turun, komoditas ini berisiko mematahkan rebound dari 117,50 dan melanjutkan penurunan dari 124,00, tertinggi 2026 yang dicapai pada 20 Februari.

Meskipun demikian, komoditas ini tetap mempertahankan tren bullish saat berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Melihat indikator momentum, Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 55,91 mengindikasikan momentumnya bullish karena berada di atas level netral 50. Namun, momentumnya terus menurun sejak meraih zona jenuh beli pada bulan lalu.

Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia pada saat berita ini ditulis adalah 28°C dengan hujan ringan dan berpotensi berlanjut hingga tengah malam. Operasi pemuatan batu bara diprakirakan tetap berjalan sehingga hujan ringan tidak berpotensi menjadi faktor yang mempengaruhi harga batu bara untuk hari ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 102.K/MB.01/MEM.B/2026. Perubahan harga dari sebelumnya beragam, ada yang naik dan ada yang turun dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $102,37 turun dari $102,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $71,29 turun dari $71,74
  • Batubara II (4.100 GAR) $47,64 naik dari $47,34
  • Batubara III (3.400 GAR) $34,25 naik dari $33,85

Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa perjanjian dagang dengan AS tidak membuat Indonesia menambah kuota impor. Menteri Bahlil mengatakan kuotanya tetap hanya saja asal negara impornya yang berubah menjadi Amerika Serikat, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Beliau mengatakan, "Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga pertahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude, inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja USD15 miliar,".

Kesepakatan belanja itu ada dalam Reciprocal Trade Agreement (RTA) atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang difinalisasi dalam pertemuan Presiden RI, Prabowo Subianto, dan Presiden AS, Donald Trump, pada bulan lalu. Perincian belanja USD15 miliar tersebut adalah impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) sekitar USD3,5 miliar, minyak mentah sekitar USD4,5 miliar, serta produk-produk BBM olahan tertentu sekitar USD7 miliar termasuk batu bara metalurgi dan teknologi batu bara bersih.

Grafik Harian Batu Bara Newcastle

Grafik harian Batu Bara Newcastle

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.