Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Masih Tarik-Menarik Jelang Pertemuan Trump–Xi
| |Terjemahan TerverifikasiLihat Artikel Asli- Emas berbalik turun di bawah US$4.350 pada awal perdagangan Rabu, tetapi masih mempertahankan kisaran pekan ini.
- Dolar AS bertahan kuat di dekat level tertinggi dua bulan karena taruhan hawkish The Fed mengimbangi harapan diplomasi.
- Pengaturan teknikal harian Emas masih menunjukkan gambaran campuran, dengan RSI netral.
Emas kembali berada di bawah tekanan jual baru, kesulitan bertahan di dekat US$4.350 pada perdagangan Asia hari Rabu, memangkas sebagian dari rebound sebelumnya dari level di bawah US$4.300.
Para pedagang menahan diri untuk tidak menempatkan taruhan terarah baru pada emas batangan menjelang pertemuan yang sangat dinantikan antara Presiden AS Donald Trump dan mitranya dari Tiongkok Xi Jinping yang akan berlangsung akhir pekan ini.
Emas: Selutuh Fokus Tertuju pada Pertemuan Trump–Xi
Meskipun turun tipis terbaru, Emas masih terjebak dalam kisaran yang familiar sejauh pekan ini, tanpa keyakinan arah yang jelas.
Emas tampaknya terombang-ambing antara penurunan harga Minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS di satu sisi, serta permintaan Dolar AS (USD) yang tetap kuat di sisi lain.
Optimisme yang kembali muncul atas upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz dan kemungkinan kesepakatan AS–Iran membebani harga Minyak, meredakan kekhawatiran inflasi dan memicu penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS secara luas. .
Pada hari Selasa, Kyodo News melaporkan, mengutip seorang pejabat senior Iran, bahwa Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika AS mencabut blokadenya.
Trump mengatakan pada Sidang Umum PBB pada hari Selasa bahwa ia yakin AS dan Iran akan mencapai kesepakatan setelah pemilu paruh waktu AS pada bulan November.
Sementara itu, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan pada awal perdagangan Rabu bahwa para mediator "berpindah-pindah antara kedua pihak sepanjang hari," seraya menambahkan bahwa mereka berhasil menyelesaikan satu putaran pembicaraan "yang kami harap akan terbukti konstruktif dan menjanjikan."
Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih lemah terus mendukung aset yang tidak berimbal hasil seperti Emas, membatasi upaya penurunannya.
Namun, kenaikan USD yang berlanjut di tengah prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS yang hawkish, yang semakin didukung oleh komentar hawkish terbaru dari para pejabat The Fed, tetap menjadi hambatan bagi logam mulia ini.
Pejabat The Fed Collins menyampaikan pandangan yang jauh lebih hawkish pada Selasa, dengan skor FXS Speechtracker mencapai 8,1, di atas rata-rata historis 6,6. Hal ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi masih bertahan di atas target 2%. Dukungannya secara eksplisit terhadap kenaikan suku bunga pekan lalu, disertai penekanan pada risiko inflasi yang lebih tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat, menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan kebijakan restriktif hingga stabilitas harga benar-benar pulih. Pernyataannya bahwa Federal Funds Rate perlu menjadi "sedikit lebih restriktif" turut memperkuat ekspektasi bahwa Dolar AS akan tetap mendapat dukungan dari tingginya imbal hasil AS. Indeks Sentimen The Fed FXS (FXS Fed Sentiment Index) naik 0,53 poin ke 150,49, memperkuat posisinya di wilayah hawkish, sejalan dengan nada pernyataan Collins yang lebih tegas dibandingkan rata-rata historisnya sebagaimana tercermin dalam FXS Speechtracker.
Selain itu, para pedagang tetap gelisah dan mengambil untung menjelang pertemuan Trump–Xi, sehingga memberikan tekanan turun pada Emas.
Ke depan, KTT Trump–Xi akan dipantau ketat atas potensi dampaknya terhadap sentimen risiko yang luas, USD, dan aksi harga Emas. Sementara itu, perkembangan di Timur Tengah akan tetap menjadi perhatian bersama dengan pidato The Fed dan data PMI bisnis pendahuluan S&P Global AS.
PMI Manufaktur S&P Global AS diprakirakan melandai ke 53,5 pada September dari 53,9 pada Agustus, sementara PMI Jasa juga diprakirakan turun tipis ke 56 pada bulan yang sama dari 56,5 pada Agustus.
Rilis PMI AS yang lebih lemah dari prakiraan dapat meredam ekspektasi hawkish The Fed, memperkuat aksi beli saat harga murah pada Emas yang tidak berimbal hasil.
Analisis Teknis Harga Emas: Grafik Harian
Pada grafik harian, XAU/USD diperdagangkan di US$4.339,47. Logam mulia ini bergerak di antara zona support yang dibentuk oleh SMA 50-hari dan 100-hari, masing-masing di US$4.307,31 dan US$4.313,57, serta resistance terdekat dari SMA 21-hari di US$4.388,96, sehingga bias jangka pendek secara umum masih netral. Relative Strength Index (RSI) di 48,18 berada sedikit di bawah garis tengah, menunjukkan momentum yang belum memiliki arah jelas setelah pullback terbaru. Sementara itu, SMA 200-hari di US$4.542,04 mengindikasikan bahwa momentum bullish telah melemah, tetapi pasar belum menunjukkan peralihan yang jelas ke fase bearish.
Di sisi bawah, support awal berada di sekitar SMA jangka pendek dan menengah pada kisaran US$4.313–US$4.307, sebelum garis tren naik di dekat US$3.999,89 yang menjadi penopang struktur bullish yang lebih luas jika tekanan jual berlanjut. Di sisi atas, penutupan harian di atas SMA 21-hari di US$4.388,96 diperlukan untuk mengonfirmasi kembalinya kendali pembeli dan membuka jalan menuju pengujian ulang resistance yang lebih kuat di SMA 200-hari pada US$4.542,04.
(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)
Pertanyaan Umum Seputar PERANG DAGANG AS-TIONGKOK
Secara umum, perang dagang adalah konflik ekonomi antara dua negara atau lebih akibat proteksionisme yang ekstrem di satu sisi. Ini mengimplikasikan penciptaan hambatan perdagangan, seperti tarif, yang mengakibatkan hambatan balasan, meningkatnya biaya impor, dan dengan demikian biaya hidup.
Konflik ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dimulai pada awal 2018, ketika Presiden Donald Trump menetapkan hambatan perdagangan terhadap Tiongkok, mengklaim praktik komersial yang tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual dari raksasa Asia tersebut. Tiongkok mengambil tindakan balasan, memberlakukan tarif pada berbagai barang AS, seperti mobil dan kedelai. Ketegangan meningkat hingga kedua negara menandatangani kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok Fase Satu pada Januari 2020. Perjanjian tersebut mengharuskan reformasi struktural dan perubahan lain pada rezim ekonomi dan perdagangan Tiongkok serta berpura-pura mengembalikan stabilitas dan kepercayaan antara kedua negara. Pandemi Coronavirus mengalihkan fokus dari konflik tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa Presiden Joe Biden, yang menjabat setelah Trump, mempertahankan tarif yang ada dan bahkan menambahkan beberapa pungutan lainnya.
Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih sebagai Presiden AS ke-47 telah memicu gelombang ketegangan baru antara kedua negara. Selama kampanye pemilu 2024, Trump berjanji untuk memberlakukan tarif 60% terhadap Tiongkok begitu ia kembali menjabat, yang ia lakukan pada tanggal 20 Januari 2025. Perang dagang AS-Tiongkok dimaksudkan untuk dilanjutkan dari titik terakhir, dengan kebijakan balas-membalas yang mempengaruhi lanskap ekonomi global di tengah gangguan dalam rantai pasokan global, yang mengakibatkan pengurangan belanja, terutama investasi, dan secara langsung berdampak pada inflasi Indeks Harga Konsumen.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.